Selamat Datang

Monggoo dipun aturiiii :))

Minggu, 08 Juni 2014

Teruntuk Laki-Laki yang Pernah Menempati Rahim yang Sama, dalam Masa yang Berbeda

Aku mencintaimu semenjak Engkau bersemayam dalam rahim umik. Hingga saat ini, hingga detik ini, hingga kapanpun yang tak terkecuali, insyaAllah. Teringat saat usiamu baru satu hari, Engkau dibawa pulang ke rumah kita dan aku sungguh menyambutmu dengan suka cita setelah sebelumnya aku sempat menggerutu sebab aku tidak turut serta diboyong bersama umik dan abi demi melihat langsung proses pelahiranmu. Teringat saat usiamu masih balita, 3 tahunan mungkin. Kita pernah bermain kejar-kejaran saat dititipkan di rumah budhe dan aku mendorongmu hingga Engkau terjungkal keluar dari pintu rumah dan bibirmu sobek berdarah. Ah aku sungguh menyesali hal itu, sungguh aku tanpa sengaja melakukannya sebab aku ketakutan karena dari belakang sudah ada yang mengejarku dan Engkau yang notabene masih berumur 3 tahun dengan larimu yang bahkan masih belum kencang ada di depanku, refleks aku mendorongmu hingga Engkau terjatuh. Padahal saat itu, abi dan umik pulang membawakan oleh-oleh dua buah kaos kembar untuk kita. Ahahahaa dan hingga saat ini, Kamu bahkan masih ingat insiden berdarah itu. Sungguh, aku minta maaf ya adikku :')
Pernah juga kejadian waktu aku sebel sama Kamu, aku nyubit pahamu sampe Kamu nangis dan aku diancem mau dilaporkan ke polisi sama Abi kalo ternyata bekas cubitanku membekas biru di pahamu. Dan akhirnya aku juga ikutan nangis dan meminta maaf kepadamu.. Ah, segitu banyak kesalahan dan kenakalan yang aku lakukan kepadamu, dan selalu saja berakhir dengan kata maaf dariku, dan pasti Engkau dengan tulus hati memaafkan kakakmu yang bandel ini. Hihihi terimakasih ya adikku, aku betul-betul harus banyak belajar darimu tentang bagaimana cara meluaskan hati sehingga mudah sekali memberi maaf kepada mereka yang pernah menyakiti, bahkan sampai saat ini hanya Engkau yang ahli dalam urusan maaf memaafkan ini. Sedangkan aku? Hahahaa aku mengaku kalah :""

Oh ya, satu lagi kebiasaan yang suka kita lakukan di rumah kosong depan rumah budhe adalah apaaa? Jeng jeng jeng yak betul, berlomba menangkapi lalat dengan gelas aqua! Hahahaa betapa mengasyikkannya ya masa-masa itu. Sering juga kita main kemah-kemahan dengan atap selimut yang diikat tali rafia di ujung tempat tidur di sisi satunya, sedangkan sisi lainnya diikat di mana saja entah jendela atau yang lainnya, yang penting atap perkemahan kita harus benar-benar bisa menaungi kita waktu tidur di bawahnya hahahaa. Belum juga kesukaan kita membuat 'kolam renang dadakan' di dalam kamar mandi dengan menyumbat jalan air sehingga air yang kita tumpahkan bisa tergenang dan jadilah kita berenang-renang di atasnya. Tapi Abi nggak suka sebab kelakuan kita itu bisa bikin lantai kamar mandi menggembung. Namun tetap saja, kalau Abi sedang tidak ada di rumah, kita ulangi lagi pembangunan kolam renang dadakan itu soalnya umik fine-fine saja dengan mainan kita yang itu hahahaa nakalnya kita dulu. 

Ah iya, ada lagi kisah yang pernah umik ceritakan kepadaku. Waktu zaman krisis moneter dulu, semua harga kebutuhan pokok pada melonjak tinggi termasuk susu formulaku. Tapi ada satu tempat yang menurut kabar, belum sempat terimbas krisis moneter jadi harganya masih murah. Maka jadilah umik yang sedang mengandungmu, bervespa berdua abi menuju ke supermarket Galaksi. Iyaa Galaksi. Bayangkan betapa jauhnya bukan? Dengan perut besar umik yang ada kamu di dalamnya. Pernah juga waktu aku TK dan hampir tenggelam di kolam renang, umik langsung menceburkan diri menyelamatkanku padahal ketika itu aku ingat betul, umik lagi mengandung besar. Ya mengandung siapa lagi kalo bukan Kamu hihiii. Aah ternyata begitu besar jasamu kepadaku ya adikku, Engkau turut andil dalam menyelamatkan hidupku :")

Aku juga senang menggodamu waktu masih kecil dulu. Selalu mengajak kita berlomba makan entah itu roti, es krim, ataupun yang lainnya. Dan selalu saja Kamu yang 'aku menangkan' soalnya memang aku sengaja biar punyamu yang habis duluan sedangkan punyaku masih baru kemakan sedikit. Hahahaa dan aku 'pura-pura turut senang' menyelamatimu yang selalu juara nomer satu kalo lomba makan sama aku :3
Tapi sayangnya semakin Kamu besar, semakin Kamu sadar kalo aku sudah melicikimu selama ini dan Kamu nggak pernah mau lagi diajak lomba ngabisin makanan sama aku wahahahahaa Alhamdulillah ya, akhirnya Kamu sadar :3
Nggak cuma berhenti di situ aja sesi jahilku sama Kamu. Aku ingat sekali dulu ketika usiamu baru menginjak beberapa bulan, waktu itu malam menjelang dan aku sedang merasa betul-betul tidak diperhatikan mungkin sama umik. Jadilah aku pura-pura menangis meraung-raung (dan anehnya air mataku tetep keluar walaupun aku cuma pura-pura. memang dasar tukang akting ya --") duduk dibawah meja di depan kamar tidurmu. Nangis pura-puraku itu nggak berhenti sampe kamu ditidurkan sama umik dan akhirnya umik menggendongku. Hahahaa maaf ya Tole, aku merebut jatah perhatianmu padahal seharusnya sebagai kakak yang baik, aku ikut menidurkanmu kala itu dengan menyanyikanmu lagu nina bobok :'D

Oh yaa ada lagi. Dulu waktu kamu kecil dan sedang sakit, aku selalu berusaha ingin cepat-cepat sampai ke rumah sepulang dari sekolah demi melihatmu di rumah dan menghiburmu dengan tingkah Mister Beanku yang pura-pura jatuhlah, pura-pura melompat dari atas kasurlah, dan kepura-puraanku yang lainnya. Dan aku akan senang sekali ketika Kamu tertawa saat melihat kepura-puraanku yang satu ini hahahaa setidaknya kepandaianku berpura-pura masih ada manfaatnya :3 Aaah, tiba-tiba saja terngiang di telinga suara tertawamu saat Engkau kecil dulu :')
Ada juga kisah waktu kita SD dulu, Kamu kelas 2 dan aku kelas 6. Aku dapet berita dari temenku waktu sedang istirahat kalo kepalamu benjol gara-gara disenter bola sama teman laki-lakiku. Dan celakanya teman laki-lakiku itu adalah laki-laki yang sedang aku sukain ceritanya hahahaaa. Tapiii aku sudah tidak peduli. Dengan tampang sok heroikku aku langsung turun menuju kelasmu dan meminta penjelasan kepada teman laki-lakiku itu. Uh, berani-beraninya dia bikin benjol kepala adikku! *eh? dulu sampe benjol nggak ya kepalamu Dek? :p

Duh masih begitu banyak cerita tentang kita, yang semakin aku tuliskan disini, semakin menguak dan menuntun memoriku untuk melanglang lebih jauh ke masa-masa kecil kita dulu. Kau tau apa yang membuatku menuliskan tentang kita malam ini? Ya.. Sebab quality time kita tadi, meski hanya sebentar namun sarat makna,, buat aku. Sebab aku merasa Engkau masih benar-benar adikku, satu-satunya seseorang dengan garis keturunan yang sama walau dengan sifat yang berbeda. Sebab terkadang aku merasa jauh, sangat jauh denganmu walau nyatanya kita ada dalam satu atap setiap harinya. Sebab aku sering tidak memperhatikanmu, tidak memperhatikan kehidupan remajamu, kehidupan sekolahmu, ah banyak sekali yang rasanya aku luputkan dari dirimu. Sebab terkadang aku bertanya-tanya kepada diriku sendiri, "Benarkah aku mengenali betul sifatmu luar dalam sebagai adik laki-lakiku?"  :"""

Semangat sekolahnya ya, Le.. Semangat mengejar cita-citanya. Semoga cita-cita jadi insinyur lulusan ITBmu kelak dikabulkan oleh Allah. Semoga setiap langkahmu diliputi kemudahan, keberkahan, dan sedang dimana saja keberadaanmu dan dalam keadaan apa saja kondisimu, Allah tetap bersamamu selalu, tak pernah meninggalkanmu...
Jadilah laki-laki yang soleh dan imam terbaik dunia akhirat untuk istri sholehahmu kelak, jadilah ayah terkece sedunia untuk anak-anakmu kelak, jadilah anak pembawa surga dalam dunia maupun dalam akhirat untuk umik dan abi kita. Semoga Engkau selalu dalam penjagaan-Nya, doaku untukmu wahai adikku tercinta... {}



Yang ditakdirkan lebih dulu menempati rahim umik sebelum kamu,

                                                                               Mbak


Minggu, 01 Juni 2014

Harapan itu Akan Selalu Ada… (by Asa Mulchias)

Adakah pertolongan yang Allah beri untuk orang-orang yang berputus asa? Putus asa itu dosa. Maukah Allah menolong orang yang berputus asa dari rahmatNya? 

Pertolongan datang dimulai dari hati yang penuh harapan. Tidak pantas mendapat pertolongan orang-orang yang bahkan tak percaya dengan pertolongan itu sendiri. Allah membenci orang yang putus asa. Sangat benci bahkan.


Untuk itulah, Kawan… jika kau masih lupa tentang keajaiban karena bertemu terlalu banyak kehancuran, liriklah lembah nan hijau. Gunung yang kokoh. Langit yang terbentang. Untuk orang-orang yang berputus asa, betul yang kaukatakan: memang tak ada harapan. Dalam hidupmu kau akan selalu menemuinya. Kian hari makin yakin saja. Makin lama, tak ada lagi yang kan mampu menggoyah imanmu: keajaiban itu omong kosong belaka. Milik orang-orang yang bermimpi dan lupa. Semua akan terus begitu… sampai kau benar-benar menyadari: Allah selalu mencatat setiap kepercayaanmu dan mengabulkannya. Ingatlah: Allah sesuai prasangka hambaNya.

Karenanya, kau akan dapati di tempat lain, di hati lain, di jiwa yang lain, tidak demikian kata “harapan” dikelola. Ada yang mampu menuliskannya dengan sempurna, tanpa cacat, dan bersinar tiap harinya. Bukan karena ia tak bertemu realita, tapi ia selalu berkata, “Keajaiban adalah milik Allah. Realitas pun juga. Apa sulitnya Allah menunjukkan yang satu dan menghilangkan yang lainnya?” Air tak mungkin dibelah, tapi ada kisah Laut Merah. Bulan tak mungkin dipisah, namun Rasulullah melakukannya. Kau boleh bilang, “Itu kan Nabi!” Ah, naifnya. Ini bukan soal nabi atau bukan. Ini masalah Allah berkehendak menolong atau tidak. Yang membelah laut bukan Musa, wahai Kawan.Yang memisahkan bulan bukan Rasulullah, wahai Sahabat. Jika Allah menolongmu, tidak ada satu pun yang menghalangi. Begitu pula sebaliknya. Jika Allah tak menolongmu, maka tak satu pun mampu membantumu. 


Keajaiban persis seperti itu. Bukan soal kau itu siapa. Tapi masalah apakah kau percaya. Apakah Allah mau menunjukkannya pada kita… (Asa Mulchias)