Selamat Datang

Monggoo dipun aturiiii :))

Rabu, 22 Januari 2014

Mik, I'm Your Little Daughter. Still and Will Always be...


Taraaa... Aku baru datang dari Surabaya nih, Teman-temaann :D Hihii woro-woro nggak penting, eh tapi penting juga sih, karena dialah pembuka alias opening dari kisahku kali ini. Jadi ceritanya, kemarin malam aku berangkat berdua sama umik naik bus satu rombongan dengan temen-temen seprofesi umik (sama-sama guru juga). Sebetulnya bukan acara apa-apa, sebetulnya juga, umik kesana cuma untuk menandatangani sesuatu yang memang bener-bener ndak bisa diwakilkan. Setelah tanda tangan yawes cus pulang. Cuman sak dek sak nyet (sebentar banget) istilahe. Dan disini aku cuman nunut (numpang) jalan-jalan aja hahahaa. Bisa dibilang penyusup juga, tapi aku juga nggak gratisan kook, nyusupnya. Tetep dibayarin umik lah naik busnya wkwk :p Banyak yang awalnya nggak paham kalo aku anaknya umik. Banyak yang mengira aku guru baru atau entah yang lainnya..


Ibu x: "Lho njenengan guru anyar ta? Kok kulo ratau ketok." (Lho samean-kamu- guru baru kah? Kok saya ndak pernah keliatan?)
Me: "Sanes, Buu. Kulo namung tumut ibu kulo mriki" (Bukan Bu.. Saya cuman ikut ibu saya disini)

atau

Ibu y: "Ealaah.. niki putrinipun panjenengan to.. Kulo kinten.." (Ealaah ini putri samean to? Saya kira..)
Umik: "Inggih niki putri kulo, Bu. Hehehe" (Iya ini putri saya, Bu)
Ibu y: "Eeee..sudah gadis, nggeh" (Eeee, sudah gadis, yaa.. Cantik lagi. *wahahaa maap yang terakhir bo'ong deng :p*)
Umik: "Hehehee inggih :) "  (hehehe iya..)

Hahahaaa ya begitulah kira-kira. Sebetulnya, alasan aku ikut itu ya karena emang aku pengen jalan-jalan :D Secara kan aku libur satu minggu. Dan suwung (penat?) banget rasanya ndekem (terkurung?) di Jember teruuss. Kalo temen-temen yang dari luar kota kan, pulang ke tanah kelahiran itu sudah menjadi liburan tersendiri yang amat membahagiakan :) Lha kalo aku? Rumah di Jember, kuliah di Jember, tiap hari njujug (pulang) ya ke rumah karena emang ndak nge-kos. Liburan yawes di rumah aja karena saudara-saudaraku juga nggak ada yang tinggal jauh. Selain itu juga, ada kabar burung bahwa seusai acara yang very very singkat itu, rombongan bus mau melanjutkan dengan jalan-jalan menyeberangi Suramadu. Jelas aja makin bikin aku pengen ikut karena memang aku nggak pernah lewatin itu jembatan Suramadu, apalagi ke Pulau Maduranya :') Tapi ternyata nggak jadi, Saudaraa. Malah ujung-ujungnya cuman ke Tanggulangin doang. Yasudahlah mungkin di waktu yang lain aku bisa berjumpa denganmu, wahai Pulau Madura :*

Tapi yang mau aku tekankan disini adalah, lebih ke perjalananku berdua dengan umik. Sebelumnya, aku mau bilang, percaya atau tidak, seseorang yang paling cerewet ketika dia akan ditinggal pergi atau ketika dia akan meninggalkan pergi ya cuma seorang IBU. Beliau cerewet itu bukan untuk beliau sendiri tapi untuk kebaikan mereka yang akan menginggalkannya, atau mereka yang akan ditinggalkannya. Contoh sederhananya saja, ketika aku sudah sebesar ini dan akan pergi ke Surabaya sama temen-temen karena ada keperluan, umik masih saja selalu turut andil dalam menyiapkan barang-barang bawaanku. Semuuaa barang ditanyakan. 'Ini apa sudah dibawa? Itu apa sudah masuk dalam tas' Apalagi, umik yang hafal banget sama sifatku yang bener-bener membawa malapetaka dan sayangnya belum bisa dihilangkan, yaitu T E L E D O R. Dan contoh lainnya lagi, ya waktu kemarin umik akan meninggalkan adek laki-lakiku dan abi berdua di rumah. Nugget umik beli (kebiasaan umik kalo mau ada tugas di luar kota) sebagai persediaan lauk, ini itu semuanya diberi penjelasan dulu ke adek. Diarahkan. Diingatkan. Kayak misalnya, 'nanti ini diginikan ya Le' atau 'kalo besok nutut, yang ini di bla bla bla' atau 'kalo pusing atau gatelnya kumat minum bla bla bla' atau 'kalo butuh ini ada disini' atau sekedar mengingatkan 'besok pulang sekolah jangan lupa bla bla' :"))

Jadi inget tadi waktu tadi ketua rombongan menawarkan kepada orang-orang, mau melanjutkan perjalanan kemana. Mereka saling bersahutan. Ada yang bilang mau ke pasar Turi, mau ke Tanggulangin, mau ke PGS, namun tak ada satupun yang mengusulkan untuk menyeberangi Suramadu. Langsung umik dengan keras mengusulkan. Tapi berhubung nggak ada yang mengamini, akhirnya umik jadi suara minoritas dan saat itu terlihat sekali gurat kekecewaan di wajahnya, karena umik tau aku kepengen banget tau Suramadu, karena umik merasa sudah mengecewakan aku. Ahahaha umik :') it's okay miiikk,, aku pun nggak berharap banyak kok ke Suramadu. Yang aku cari dengan ikut umik itu ya perjalanannya. Aku suka sekali dengan perjalanan. Terutama ke tempat-tempat yang belum pernah aku kunjungi (jadi jangan heran kalo ngeliat aku duduk di pinggir kaca dan nggak rela melepaskan pandanganku dari banyak pepohonan, gunung tinggi menjulang, atau gedung-gedung pencakar langit). Selain itu, perjalanan berdua dengan umik membuat aku mengingat masa-masa kecilku dulu, mik :")

Ah, umik.. Percayalah setua apapun, aku akan tetap menjadi seorang gadis kecil di hadapan umik. Yang selalu rindu dengan semua omelan umik, selalu takjub dengan segala macam bentuk perhatian umik, selalu tersedu dengan setiap pembelaan dari umik dikala umik tahu aku ada di posisi yang benar. Semua omelan itu, diam-diam aku camkan dalam memori agar aku dapat mengingatnya sehingga aku tak mengecewakan umik lagi. Segala macam bentuk kasih sayang itu, setiap cara didikmu itu, terpatri dengan rapi dalam hatiku sebagai bekalku mendidik anak-anakku kelak sebaik umik mengajarkan banyak hal kepadaku. Maafkan aku untuk setiap kata-kata kasar yang terlontar yang jika saja umik tau, sedetik kemudian rasa penyesalan mendalam menyeruak membuat sesak dalam dadaku. Maafkan anakmu yang masih nol ini, masih belum bisa menjadi, memberi yang terbaik untuk umik. Sungguh engkau tak tergantikan, Mik. Tak akan pernah.  Aku sayang UmikPeluk cium buat Umik ({}) :*

I'm your-only-little daughter. Still and will always be..

(On our journey, 21 & 22 Januari 2014 Jember-Surabaya-Jember)

Selasa, 21 Januari 2014

Cita-Cita Rumahku Kelak :3

Hihihii pagi-pagi tadi, settt tiba-tiba inspirasi datang menghampiriku. Nggak usah tanya ya, datengnya dimana. Sangat absurd sekali soalnya hahahaa :p

Akibatnya, jadilah pagi-pagi begini aku memposting cita-citaku untuk rumahku kelak bersama suami dan anak-anakku nanti aamiin.. Ini diaaa :D

Pertama, aku pengennya punya rumah yang punya pekarangan yang lebar nan indah. Sek sek, yang namanya pekarangan itu, tempatnya di depan apa di belakang ya? ._. Tapi yang kumaksud disini di belakang. Atau di samping nggak apa-apa it's okay :D sedangkan yang di depan, taman kecil secukupnya aja. Kenapa pengen punya pekarangan yang lebar nan indah? Karenaa satu, mewujudkan cita-cita umikku (cita-citaku juga seeh :p ) yang memang dari dulu pengen punya rumah berpekarangan. Sebab rumahku yang sekarang ini ndak punya pekarangan. Menjemur cucian aja numpang di genteng orang wkwkwk. Padahal rumah nenekku (rumah umikku dulu), pekarangannya lebar bingit, malah belakangnya ada kebunnya segala. Ya maklum juga ya, kalo di desa kan pekarangannya juga untuk menjemur padi ketika musim panen tiba. Dua, aku pengen punya kebun kecil yang kutanami sendiri tanaman-tanamannya karena emang dasarnya juga suka yang berbau hijau-hijau gitu (kalo matanya hijau juga, ehm bisa jadi bisa jadi hahaha -wah mata duitan dong gue :D-). Tiga, aku pengen punya ayunan juga di taman itu, biar bisa maen sama anak dan suamiku entar. Melihat jingganya sunset bersama :D. Empat, punya pekarangan, biar anakku maennya nggak di dalem rumah terus, biar dia tau gimana rasanya ketika telapak kaki menginjak rerumputan yang lembut nan hijau, biar mereka juga tau rasanya gimana mandi air hujan asalkan nggak lagi badai petir aja hihihiii

Kedua, aku pengen punya rumah dengan ruang tamu yang luas. Entah kenapa, aku suka sekali sama rumah yang ruang tamunya luas, kayak rumahku sekarang :D Lega juga rasanya kalo lagi ditamoni (ada orang bertamu ke rumah kita) sama para handai taulan. Selain itu juga, aku pengen ruang keluarganya luas, biar kalo anakku maen, dia nggak perlu kejedot-jedot mejalah, kursilah hehehe.

Ketiga, aku pengen punya gudang! Iya see, emang kebanyakan setiap rumah ada gudangnya ya, tapi enggak untuk rumahku yang sekarang ==" Jadilah akhirnya bingung kalo mau taruh barang-barang nggak kepake tapi sayang buat dibuang. Karena takut suatu saat nanti kepake lagi, atau dia nggak dibuang hanya karena menyimpan begitu banyak kenangan, kan juga itu aku bangeet huahaha

Keempat, aku pengen memelihara hewan peliharaan di rumahku nanti. Karena aku pengen mengajarkan secara dini ke anak-anakku entar, tentang rasa sayang sama hewan, atau keperihewanan (?) lah gitu. Gimana mereka main bareng, mereka ngasih makan binatang peliharaannya. Biar nanti kalo pagi-pagi mereka susah dibangunin juga aku punya alasan. Misalnya, "Sayang ayo banguun, ituloh kelincinya kasian kelaperan, dari tadi nungguin dikasih makan sama Adek." atau "kelincinya udah panggil-panggil mau ajak Adek maen bareng kayak kemaren" atau blablabla. Yang baru terpikir masih pengen pelihara kelinci dan ikan dalam akuarium. Kenapa kelinci, kerena aku mau balas dendam (ouchh) wkwk. Soalnya dari dulu, aku dan adekku kepengen banget pelihara kelinci. Secara gitu ya, kelinci itu lucunya ampuuun deh. Dulu aku dan adekku sampe mau urunan pake uang sendiri buat beli kelinci. Tapi proposal kami nggak pernah di acc sama Abi. Pernah sih, sekali diiyain, tapi nyatanya tidak terwujud sampai sekarang, Saudaraa --" Yaa tapi alasan Abi memang bener banget sih. Ya itu, sekali lagi karena kita memang nggak punya pekarangan .__.
Oh ya, dan kenapa pilih ikan di akuarium? Iyee biar bisa ditaruh di dalem rumah buat ngadem-ngademin ati. Jadi kalo di dalem rumah kita ketemu sama ikan, di luar rumah kita ketemunya sama kelincii yang unyu-unyu. Dan satu lagi, nggak mau bikin kolam ikan karenaaa nggak lucu aja kalo anakku belum cukup gede dan lagi main-main di pekarangan tiba-tiba dia nyebur ke kolam ikan. Mungkin waktu aku lagi masak atau apa, akhirnya aku lari-lari, masakanku gosong, panciku kebakar, dapurku kebakaran dan blablablaaa ~ (maaf khayalan terlalu jauh wkwk)

Kelima, aku pengen punya dapur yang jendelanya lebar dan langsung menghadap ke pekarangan. Biar kalo pagi-pagi aku lagi masak, ada angin seger yang bisa kuhirup. Selain itu, aku juga suka sekali melihat rintik-rintik hujan dan menghirup wangi tanah kala hujan. Dan selain itu pula, belajar dari rumahku yang sekarang, abiku nggak suka kalo dapurnya di dalem rumah ._. iya, karena menurutnya, nanti bau masakan-masakan itu mulek (berputar-putar,berkumpul (?)) aja di dalem rumah. Bikin sesek (abiku nggak punya sakit sesek sih sebenernya). Akhirnya di rumahku yang sekarang, dapurnya ada diluar rumah. Tapi buat rumahku besok, aku nggak mauuuu.. Repot rasanya kalo malem-malem ada yang kelaparan. Ntar yang ada aku nggak jadi masak, malah ketakutan mau ke dapur doang wkwk dasar penakut yaaa :3

Keenam, aku pengen punya rumah bermushola, yang punya pintu kaca langsung terhubung ke pekaranganku. Biar bisa sholat berjamaah terus sama suami dan anak-anakku, biar kalo cuaca lagi panas, kami bisa merasakan kesejukan semilir angin sambil beribadah. Biar kalo cuaca lagi hujan, kami bisa langsung merasakan kedamaian hujan yang turun, yang harapannya dari kesemua itu, ibadahnya makin khusyuk, makin dalam memaknai keagungan sang Pencipta, makin banyak bersyukur atas beribu kenikmatanNya yang tercurah tak terhingga. Karena kan kadang ada rumah yang musholanya panas jadi bikin nggak betah buat berlama-lama didalamnya..

Kesimpulan: Berarti aku harus punya pekarangan rumah yang bagus beralaskan rerumputan hijau yang menyejukkan ketika dipandang. Itu berarti juga, aku harus rajin-rajin merawat pekaranganku :p

Yaaa secara garis besar cukup itu aja dulu. Tapi warning warning, suatu saat nanti cita-cita ini bisa jadi berubah atau malah bertambah hihii. Semoga cita-citaku tercapai aamiin ya Allah. Akhir kata, selamat paagii semuanya! Semoga hari ini lebih baik dari hari kemarin yaaaa. Aamiiin :D

p.s. ini udah ada perubahan loh. Dulu yang ke-6 gaada :p

Selasa, 14 Januari 2014

Pengalaman Sirkumsisi aka Nyunat


Alhamdulillaaahh,, Alhamdulillahirobbil'alamiin puji syukur kehadirat Allah Swt. untuk nikmat yang tiada batasnya, untuk nikmat yang jikalau semua ranting jadi penanya dan lautan menjadi tintanya sekalipun tak akan sanggup untuk menuliskannya. Alhamdulillah, hari ini bertambah lagi pengalaman dalam bersirkumsisi alias menyunat alias mengkhitan. Subhanallah.. Dari beberapa baksos yang dulu pernah aku ikuti, kali inilah yang paling cetar membahana buatku wkwk :D

Hari ini, organisasiku yang punya nama IMSAC (Islamic Medical Student Association) diajak bekerjasama dengan BSMI (Bulan Sabit Merah Indonesia) cabang Jember dalam baksos yang bentuknya khitanan massal demi memperingati hari kelahiran nabi besar Muhammad Saw. di daerah Tanggul, Jember. Alhamdulillah aku diberi kesempatan sama Allah untuk ikut di dalamnya. Jadilah pagi-pagi tadi jam 6 kurang 10, aku berangkat meluncur kumpul di kampus dulu. Sebetulnya ketika selepas Shubuh tadi, hujan turun mengguyur. Namun sungguh Subhanallah sekali, InsyaAllah itu tak melunturkan semangat kami. Aku malah berpikirnya, hujan di pagi hari ini semoga membawa berkah untuk acara khitanan nanti. Allaahumma shoyyiban nafi'an ya Allah.. Aamiin..


Awalnya, aku mau motoran aja ke Tanggulnya. Lumayan jauh, memang. Tapi entah kenapa aku sedang ingin bermotoraaannn yang jaaaauuuuhhhh wkwk. Jadi aku bersedia buat bawa motor sendiri. Tapi ternyata eh ternyata, mobil yang tersedia cukup untuk mengangkut para akhwat dan beberapa ikhwan. Akhirnya walhasil aku ikut naik mobil. Awalnya aku rada-rada sedih gitu soalnya nggak jadi motoran. Tapiiii aku bersyukur bingit karena ternyataa capek banget pulangnya wkwkwk dasar manusia nggak tau diri, dienakin malah nggak mau .__.

Singkat cerita, sesampainya di sana kita dapet sarapan lalu langsung cus siap-siap di bed kami masing-masing. Alhamdulillah bedku total menyirkum 6 anak hari ini. Sungguh sesuatu sekali, walau memang nggak sendirian nyirkumnya (mungkin tiap bed ada sekitar 3-4 orang, dan gentian yang jadi operator dan asistennya), tapi ini bener-bener pengalaman tak terlupakan :D Dan dari sini aku punya beberapa tipe macem-macem reaksi adek-adek yang kita sunat hahaa. Cekidoottt:

1. Adek Hebat Bingit sampe Tumpeh-Tumpeh Hebatnya

Wakakakak maaf namanya alay ==" Jadi maksudnya, dari awaaall dia dianastesi (disuntik bius) sampe akhir, si adek bener-bener tenang, nggak nangis. Dia diajak buat sholawatan ya mau, baca surat ya mau (memang kalo lagi nyirkum, usahakan sambil ngajak ngobrol adeknya yaah, atau ada satu orang yang jadi bagian penenang -kalo berhasil sih, wkwk ._.-). Dan ini ada di pasien terakhir bedku, pasien koret-koret (belakang-belakang) istilahe. Tapi kasihannya, ternyata setelah diperiksa, tititnya dia pernah kena infeksi (contoh penyebabnya, mungkin dulu kebiasaan kalo habis pipis nggak dicebokin atau dicebokin tapi nggak bersih). Jadi tadi lumayan lama juga adeknya, jadi di detik-detik terakhir dia wes kayak-kayak mau nangis gitu (tapi nggak sampe nangiiisss super sekali sauudaraaa) sampe dokternya ikut turun tangan dan bed yang lain sudah pada beres-beres ==" tapi alhamdulillah everything is allright (y)

2. Adek Hebat tapi Nggak sampe Tumpeh-Tumpeh

Kalo adek yang ini, ada pada pasien pertamaku. Dia nggak nangis memang awalnya. Pinter, diajak baca sholawat sama surat-surat mau. Tapi saudara, malah ayahnya yang nggak kuat lihat titit anaknya diumek-umek (apa ya ngartiinnya? =="). Malah ayahnya yang jadi nangis aduuuhh wkwkwk. Dan pada saat itu aku membayangkan gimana ya, si bapak dulu waktu istrinya sedang melahirkan. Apa beliau juga nggak kuat dan malah nggak nemenin yaa? Hehee duuh semoga nanti suamiku ada disaat detik-detik perjuanganku melahirkan anak kami *Hllooooohhhhh ngelantuurr ngelantur ayo mbalik! -_-*
Tapi tapi tapi, akhirnya di detik-detik terakhir, pertahanan si adek runtuh juga. Dia nangis tapi nggak sampe jerit-jerit kok.

3. Adek Mainstream

Untuk adek yang satu ini, dia yaa kayak yang anak-anak biasanya lah. Pas awal sampe akhir dia nangis, dari awal juga udah nggak bisa diajak komunikasi, nggak bisa ditenangin dan diajak baca doa-doa (dan disinilah saat dimana seorang peneneng gagal menjalankan tugasnya .-.). Dan bersyukurlah ketika disana si adek didampingi kedua orangtuanya, maka kamu bisa fokus cuma sama tititnya.  Oh ya, adek mainstream ini terbagi lagi atas dua tipe. Yang pertama, dia datar-datar aja nangisnya dan yang kedua, dia sampe jerit-jerit gitu deh. Dan keadaan yang seperti itu akan diperparah lagi dengan kondisi pengantar yang nggak bisa menenangkan anaknya. Nggak paham prosedur dunia persunatan dan bisanya cuma ngomel dan ngeluhin ke para operator "Kenapa kok lama banget, nggak tau anaknya udah kesakitan begini apa?" *Bapak, kami juga sebenernnya mau ini cepet selesai, Pak ==" *

4. Adek PHP dan Antimainstream Si Penguras Tenaga

Untuk adek yang satu inii bener-bener Subhanallah sekali. WUOOW banget lah pokoe. Awalnya waktu ditidurkan, memang dia nggak nangis, teman. Tapi baru dibersihkan aja dia sudah mewek. Dan nggak sampe di sana, intensitas menangisnya lama-lama semakin kencang dan semakin tinggi. Dan nggak cuma itu aja, kaki sama tangannya juga ikutan maen. Kakinya seruduk sana seruduk sini dan tangannya berusaha buat mencekal tangan operator. Sampe handskun dipegang, sampe badannya guling sana guling sini, sampe kayak orang melahirkan itu wes, yang kayak posisi mau duduk, trus tidur lagi, sampe kepalanya kejedot tembok di belakangnya cobak. Huaaahhh benar-benar menguras tenaga sekalii, saudara. Padahal sudah dipegangin sama lima orang juga. Dan kondisi anak yang kayak gini yang makin bikin tambah lama proses sirkumnya. Susah bangeet mau masukin jarum waktu mau hecting (menjahit) gara-gara kaki anaknya heboh nggak bisa diam. Dan semakin lama proses sirkum, akan makin banyak perdarahannya (bleeding) dan makin sakit jadinya karena lidokain (bius) yang kita kasih kan juga ada masa kerjanya. Belum lagii ditambah sama pengantar yang sibuk dengan hpnya, niatnya sih mau fotoin proses sirkum anaknya sepertinya. Belum lagi ditambah dengan kondisimu sendiri yang kesusahan mau hecting sambil berusaha menghentikan perdarahan, sambil melawan tenaga si anak yang mendadak berubah kayak supermen. Anak kayak gini mau dibilangin apa juga wes nggak bakalan masuk ke telinganya heuuu.. Dan gara-gara adek ini juga tadi aku mengalami hal yang memalukaaaannn.. Jadi ceritanya kan aku tuh kalo pake jilbab, di dalemnya kukasih daleman ya biar nggak merosot jilbabnya. Nah ceritanya, di daleman jilbab yang aku pake kan memang ada lubang tempat untuk rambut too.. Lhaa jadi gara-gara sibuk menenangkan si adek tadi, jilbab dan bajuku di tarik-tarik nggak karuan, akhirnya sampai membuat daleman jilbabku yang berwarna krem itu merosot ke bawah. Dan yang memalukan adalah, sama para ikhwan dikiranya itu celana dalam pasien sirkum yang jatuh. Untungnyaa, nggak mereka kasihkan ke para adek itu. Pantes ajaaa tak pegang-pegang kepalaku kok daleman jilbabku nggak ada. Eh ternyataaa ==" aaaaa aku maluu sekali -_-

Tadi termasuk lumayan cepet lah alhamduliillaahh, dari jam 08.00-11.00. Setelah ituu ternyata nggak langsung pulang tapi masih diajak ke Patemon duluuu hihihii asik asik. Patemon itu smacam waterboom gitu. Lumayaan lah disana sempet naik wahana bebek air walaupun nggak bisa berenang karena memang nggak bawa baju renang dan helloooo plis masa iya mau berenang sama para ikhwan gitu .-. *tapi ikhwannya juga nggak ada yang berenang kayakya* Lagian juga ini hari libur dan tadi kolam renang penuh sekaliiii..

Begitulah cerita hari ini. Subhanallah sekalii terimakasih banyak ya Rabbii untuk hari ini. Rasanya kayak besok nggak remidi aja -_- Semoga remidi besok berjalan lancar dan dapet nilai baik aamiin u,u

*Semoga cepat sembuh yaa adek-adek yang ganteng ({}) *

Minggu, 12 Januari 2014

Unspoken

Entah harus memulainya dari mana, tapi sesungguhnya banyak sekali yang ingin diungkapkan.
Entah dulu aku mengawalinya seperti apa, akupun sudah tak mengingatnya (atau mungkin, aku tak tahu bagaimana awal mulanya)
Yang jelas saat ini yang aku tahu, aku merasakannya.
Dan mungkin aku merasa kehilangan dirinya.
Aku.. merindukan sosoknya.
Ah, tidak. Tak perlu sosoknya. Cukup keberadaannya saja itu sudah cukup untuk mengobati rasa.

Ya.. Saat-saat seperti inilah yang membuatku merasa lemah sebagai seorang wanita.
Membuatku merasa bobrok sebagai seorang hamba.
Untuk yang seperti ini, perlu dipertanyakan, imanku dimana?

Yaa Rabbi.. Aku malu.
Katanya aku punya iman, tapi kenapa dalam urusan merah jambu ini aku gampang sekali dibutakan.
Ternyata semudah itu aku diombang-ambingkan untuk hal yang bahkan masih berada dalam ketidakpastian
Sesungguhnya aku tak menginginkan, ya Rabb..

Mohon ampun atas segala kelemahan ini, ya Rabb..
Mohon ampun atas semua kerapuhan diri, ya Rabb..
Mohon ampun atas setiap keretakan iman, ya Rabb..
Sesungguhnya hanya kepadaMu lah sebaik-baik tempatku kembali.

Dari Abu Bakrah, Ra., bahwasanya Rasulullah Saw. berdoa ketika ditimpa bencana, 
"Ya Allah, hanya rahmat-Mu yang aku harapkan. Janganlah Engkau menyerahkanku kepada diriku sendiri walau hanya sekejap mata. Mohon perbaikilah seluruh urusanku. Sungguh tiada Tuhan kecuali Engkau."

(Shahih Al-Jami', 3388)


#Afwan jiddan, postingan awal tahun malah dimulai dengan kegalauan..