Selamat Datang

Monggoo dipun aturiiii :))

Selasa, 16 Desember 2014

Haruskah jadi Sesakit ini, Ya Rabb?

Cukup tau. Teramat tau, bahkan. Tetapi sayangnya aku belum bisa mengerti (atau mungkin tidak akan pernah bisa mengerti). Terlebih, memahami.
Tidak kusangka cerita yang lalu ternyata menimbulkan luka yang teramat dalam hingga mungkin timbul perforasi.
Mengikis dan menggerogoti hati ini, tatkala mengingat dan menebak-nebak apa saja yang telah dilakukan dan.. Ah aku sudah tidak mampu untuk berpikir lebih jauh lagi...

Maka tatkala petunjukMu berkata demikian, Rabbi..
Aku memohon kekuatan agar dapat berpijak lebih kokoh dari sebelumnya.
Salah besar ketika aku meminta yang sempurna, atau begitu banyak kesempurnaan, tanpa ingat bahwa diri ini pun sejatinya tak mampu menjadi demikian, bahkan untuk satu sempurna saja.
Alangkah menyedihkannya ketika hal-hal semacam itu mudah sekali menjadikan tetesan air ini menghambur membasahi pipi, ya Rabb. Apalagi untuk hari ini.
Betapa memalukannya hingga seakan membuat hamba lupa dan tak sadar diri akan begitu banyaknya nikmat lain yang sudah Engkau beri.
Maka adakah yang lebih membahagiakan daripada Rahman dan RahimMu, Ya Rabb?
Maka adakah yang lebih menenangkan daripada pelukan hangat yang Engkau tawarkan ketika Aku tertatih untuk kembali ke haribaan?
Maka adakah yang lebih menyejukkan daripada luasnya ampunanMu yang tanpa batas?
Insyafkan hamba, ya Rabb. Terlebih hati ini.
Biarkan baling-baling bambu hamba yang hilang entah kemana itu kembali seperti sedia kala.
Hingga dengan baling-baling bambu itu, hamba bisa terbang bebas di angkasa.
Hamba percaya bahwa kekuatanMu melebihi segala energi yang dikumpulkan di muka bumi ini.
Maka dari itu, izinkan hamba meminta kekuatan yang sama, seperti yang pernah Engkau karuniakan kepada ibunda Siti Hajar, kepada ibunda Maryam, kepada ibunda Siti Khadijah, pun kepada seluruh ibunda di dunia ini.
Sesungguhnya hanya kepadaMulah sumber dari segala kekuatan hati..

Minggu, 30 November 2014

My (Real) Me Time: Nikmati Ke-single-anmu!

Pagi ini aku bahagia sekali *Ouups tidaak, tidak hanya pagi ini sih, pagi-pagi kemarin pun aku bahagia kok, Alhamdulillah ya :3. Betapa tidak, baru kali ini aku benar-benar bisa menikmati fasilitas car free day yang sudah disediakan pemerintah :D dan bukan hanya itu, intinya yang jelas aku merasa pagi ini adalah pagi milikku seutuhnya :p

Berawal dari bangun pagi dan solat shubuh, mendadak setelah sholat, aku ingin pergi berolah raga. Biasa laah, sesuatu yang tidak direncanakan itu memang kebanyakan terlaksana, bukan? Dan sebaliknya hahahaa. Akhirnya ijinlah aku ke umik dan abiku. Niatnya lari pagi sih, dan cuma pergi ke perumahan di deket-deket rumah. Tapi akhirnya berubah pikiran setelah ditakut-takutin adekku kalo di perumahan itu katanya banyak cowok-cowok yang suka menggoda *padahal aku sendirian dan nggak ada yang nemenin --" dan semakin mantap untuk berubah pikiran setelah akhirnya melihat seonggok sepeda gunung (sedikit butut) milik adek, yang sebetulnya bannya kempos, tempat duduknya atos, dan remnya ndak mekan --"
Tapi karena mendadak saja aku jatuh cinta padanya, jadilah aku gowesi sepeda itu, sendirian. Sekali lagi, s-e-n-d-i-r-i-a-n   :p

Iya, penekanan kata-kata sendirian itu amatlah perlu. Karena dari sanalah aku menikmati sekali kesendirianku, kesingle-anku. Wkwkwk. Rasanyaaa damaaai sekali hati ini. Pagi-pagi gowes sendiri ke alun-alun. Sampe sana iseng ikut senam gratisan dan lumayaan, menambah pembakaran kalori setelah lumayan gobyos sana gobyos sini. Belum puas dengan kegobyosan itu, berlarilah aku memutari alun-alun tapi cuma dapet 1,5 putaran karena seketika saja aku ingat bahwa aku harus pulang dengan menggowes lagi. Dan bukankah seharusnya aku mempersiapkan tenaga untuk itu? u.u 

Setelah itu, akhirnya aku pulang melewati jalanan dengan persawahan yang hijaaau, pepohonan yang rimbuun, selain itu juga aku menyusuri sungai yang jerniiih *enggak deng boong mah kalo sungainya, wkwkwk. Dan kok ya takdirnya pagi ini tuh mendung, jadi akunya enggak kepanasan :3 setelah sampai di gang depan rumah, rasanya eman mau pulang. Karena matahari pun sepertinya masih enggan menampakkan diri, pun begitu dengan jalanan yang masih lumayan lengang. Akhirnya bukannya membelokkan sepeda menuju arah pulang, tapi malah terus dan mengunjungi perumahan *bukan perumahan yang awalnya aku ingin kunjungi, tapi*. Dan disanaaaa, aku pun melihat pemandangan yang hijau-hijau, bapak tani yang sedang mentraktor sawah, burung gereja beterbangan dan berkicauan dengan indahnya, udara yang sejuk, dan suasana yang mendamaikan, aaaah betapa hidup begitu indah. Maklum juga ya, perumahan dengan rumah besar-besar begitu sih biasanya individual. Jadi aku nggak melihat banyak orang yang di luar rumah. Atau mungkin karena masih pagi? Entah juga sih. Dan gara-gara ngeliat rumah bagus-bagus seperti itu, aku jadi terinspirasi lagi ingin membangun seperti apa rumahku kelak hihii. Ternyata aku senang melihat rumah dengan halamannya yang indah di depan. Kalau dulu di postinganku sebelumnya mengenai kriteria rumah, aku menyebutkan boleh ada halaman depan atau belakang, kali ini aku menginginkan dua-duanya :3
Entah kenapa, seneng aja rasanya melihat rumah bertaman. Biarlah halaman depan kelak akan aku tanami pepohonan yang indah-indah, sedangkan yang di halaman belakang atau samping rumah, (semoga) setidaknya bisa cukup untuk menjemur pakaian, untuk tempat bermain anak-anakku kelak, serta untuk aku tanami TOGA ataupun palawija :D *aamiin ya Allah, semoga*. Tak perlu pagar yang terlampau tinggi, cukup rumah dengan desain minimalis tapi sederhana, dengan mushola yang berdinding kaca, serta dapur *yang gimana caranya dibikin biar bisa pewe untuk berbagai macam eksperimen wkwk* dan dua-duanya langsung menghadap halaman belakang atau samping rumah. Juga ruang tamu serta ruang keluarga dan dapur yang lega. Aduh, ini masih bisa disebut minimalis, bukan? ._.
Ah, yang jelas, seperti apapun rumahku kelak bersama suami dan anak-anakku, aku menginginkan rumah itu adalah rumah yang mendamaikan, yang menjadi tempat paling dirindukan untuk pulang ketika segala macam hal di luar sana sudah begitu menyesakkan. Rumah yang ketika dimasuki akan membuat hati menjadi tenteram sebab dibacakan ayat suci Al-Quran setiap harinya :')
*kok jadi ngomongin rumah? --"

Yasudah lah, intinya, inilah me time ku hari ini. My real me time. Ada juga sih me time-me time ku yang lain seperti jalan-jalan di supermarket, toko kain *entah itu mau belanja beneran atau cuma windows shopping :p*, atau mungkin jahit-jahit sesuka hati *walaupun hasilnya amatiran dan nggak jelas hehehe --"*, nge browsing entah itu sesuatu yang bermanfaat ataupun tidak *don't try this at home --"*. Intinyaa, jangan takut lah pergi sendiri. Ke tempat yang aman, tentunya ya (apalagi kalo kamu perempuan)! Nikmatilah kesendirianmu. Karena setelah kamu menikah atau berkeluarga nanti, mungkin feelnya sudah beda sebab akan ada kebahagiaan lain yang mungkin berbeda dari yang bisa kamu rasakan saat masih sendiri. Bukankah setiap orang tetap membutuhkan me time nya masing-masing? :D Dan dari yang aku rasakan pagi ini, ternyata bersepeda (meskipun) sendirian di pagi hari itu menyenangkan dan merefreshkan. Apalagi untuk tipe-tipe orang seperti aku yang biasanya suka ngebut kalau lagi motoran, dan baru tadi aku paham letak BULOG Jember *yang selama ini aku pertanyakan* itu dimana -_- Juga letak Dinas Peternakan dan Perikanan dan Telkomsel *yang jelas-jelas operatorku tapiaku baru tau pabriknya. Selama ini cuma tau Graparinya*, padahal sudah sering aku melewati jalanan itu. Walaupun lah, harus ekstra hati-hati dan lumayan bikin aus sepatu gara-gara rem sepeda yang nge blong wkwk. Dan kali ini, tinggal merasakan njarem-njaremnya di kaki serta aaa gara-gara duduk di kursi sepeda yang atos, gluteusku, koksigeusku... oh noo haahahaa --" Sudahlah, yang jelas hari ini Alhamdulillah sekali :D Benar kata Sherina dalam lagunya:

Mengapa bintang bersinar
Mengapa air mengalir
Mengapa dunia berputar
Lihat segalanya, lebih dekat
Dan kau akan mengerti


Rabu, 26 November 2014

Tak Bisa Ditutupi

Luluh, lantak, semuanya di hadapan Engkau, ya Rabb..

Pertahanan yang sudah hamba bangun di depan mereka, seketika ambruk dan terobohkan.

Mungkin hamba bisa menjadi periang dan seakan tak peduli di hadapan mereka. 

Di hadapan umik terutama, sebagai pihak kedua yang mengetahui semuanya setelah Engkau.

Tapi ternyata itu tidak berlaku di hadapan Engkau.

Tak ada tabir yang mampu menutupi apa yang ada di dalam hati ini.

Seketika semua pertahanan dan ketegaran itu menghilang tak ada arti.

Allahughafur, mohon ampun atas setiap dosa yang tak terhitung saking banyaknya..

Allahurabb, mohon tamengi diri dari setiap kesemuan yang dunia ini tawarkan.

Ingatkan bahwa kefanaan ini tak akan aku bawa mati.

Kuatkan hati, untuk mempertahankan apa yang harus dipertahankan.

Mampukan diri, untuk bisa menjadi yang lebih baik lagi setiap hari.

Ikhlaskan hati untuk merelakan apa yang memang seharusnya dilepaskan.

Sebab sejatinya Engkau tidak pernah mengambil sesuatu tanpa menggantinya dengan yang lebih baik lagi..


Ampuni hamba, ya Rabb.. Mungkin kali ini hamba belum mampu menjadi sekokoh itu..

Senin, 17 November 2014

Krisis Kepercayaan terhadap Laki-Laki



Siang ini seusai shalat dzuhur di musholah kampus, aku sedang duduk-duduk santai dengan seorang akhwat yang dekat denganku. Sambil cerita ngalor ngidul, eh nggak ngalor ngidul juga siih. Tapi  bisa dikatakan diskusi agama sambil bercerita gitu deh. Dan pada suatu detik ketika dia buka fb lewat hp dan menemukan ini, aku pun ikut membacanya..................





Paham tidak, itu gambar apa? Aku mendapatkan artikel itu dari fan page fb milik DPU Daarut Tauhid disini. Intinya, foto itu diambil dengan kamera pendeteksi panas tubuh. Dan dua orang yang ada di sana adalah pasangan yang entah pacaran atau sedang tunangan, yang jelas intinya, ceritanya dua orang itu bukan mahram. Daaan, lihatlah apa yang terjadi, ketika mereka pegangan tangan, saling memandang......... 

"Kajian menunjukkan bagian berwarna merah adalah peningkatan suhu yang tinggi di kawasan tersebut. Jadi berpegangan tangan, jantung seorang perempuan akan berdegup kencang karena cinta dan kasih sayang. Sedangkan lelaki berdegup di otak dan kemaluan kerana nafsu semata-mata"


Maka inilah satu dari sekian banyak alasan Islam melarang untuk tidak bersentuhan dengan yang bukan mahram, berpandang-pandangan, apalagi yang lebih dari itu. Sekalipun statusnya tunangan, toh juga masih belum halalan thoyyiban kan?? Tolong ya, akad aja belum. Jadi perempuan juga plis jangan mau digrepe-grepe! Laki-laki (yang notabene MASIH berstatus) tunanganmu itu saja belum melafalkan perjanjian yang agung dengan Allah dalam akad itu, yang dinamakan MITSAQAN GHALIDZA. Yaitu perjanjian yang agung, peralihan untuk menanggung jawabi kamu dari orang tuamu kepada dirinya.
Dan mengutip apa kata ust. Salim A. Fillah dalam bedah buku 'Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan', bahwa beliau tidak ingin menunda terlalu lama waktu antara pengkhitbahan dan pernikahan itu sendiri. Karena beliau takut tergoda oleh dua macam godaan dari arah kanan dan kiri.
Kanan: Takut menemukan atau 'melihat' sosok lain yang 'dirasa' lebih baik dari perempuan yang telah dikhitbahnya, atau dari laki-laki yang telah mengkhitbahnya
Kiri: Takut tergoda untuk melakukan maksiyat dengan yang dikhitbah / yang mengkhitbah, padahal jelas-jelas status masih BELUM HALAL!

Ah, aku jadi emosi sendiri seusai melihat gambar dan membaca artikel itu. Sungguh, seketika muncullah sebuah pertanyaan yang teramat, terlampau, dan terlalu besar dalam benakku: "Sebegitu rendah dan pemuas nafsunya kah perempuan di mata laki-laki?"
Sungguh tidak adil rasanya jika ia memberikan  rasa kasih dan sayangnya, yang benar-benar tulus datang dari hati tapi hanya dibalas dengan nafsu belaka dari para laki-laki yang ah entahlah. Mendadak aku jadi krisis kepercayaan terhadap para lelaki, kecuali Rasul dan abiku tentunya. Hahahah -_-

Nah kalau menikah? Niat menikahnya diniatkan sebagai apa dong? Jangan-jangan hanya sebagai pemuas nafsu belaka yang akan dibuang ketika sudah mendapatkan apa yang diinginkannya??? Lalu kapankah waktu yang BENAR untuk kita sebagai perempuan, BISA percaya terhadap laki-laki? Hahahah bukankah laki-laki itu yang dipegang adalah omongannya? Perkataannya? Janji-janjinya? 
Hahaha mungkin akunya yang terlalu berfikir negatif dan terlampau jauh? Tapi benar-benar ini menjadi pertanyaan besar untukku. Benarkah apa kata pepatah yang mengatakan bahwa semua laki-laki itu sama? Sama apanya? Sama..... ah entahlah. Aku bukan laki-laki.

Sabtu, 15 November 2014

(SEMACAM) CATATAN HATI SEORANG SUAMI by Fahd Pahdepie



Saya sering mengatakan bahwa kecantikan perempuan meningkat saat mereka sedang hamil. Jika saya harus bicara angka, mungkin sekitar 27.3%. Tetapi, jika mereka tersenyum, saya tak bisa menghitung apa-apa lagi: Senyum seorang perempuan yang sedang mengandung adalah senyum seorang ibu. Dan karena seorang ibu adalah malaikat yang terlihat, sulit mendeskripsikan betapa agung kecantikan dan kemuliaannya.

Ini tentang Rizqa, istri saya, ketika dia sedang mengandung.

Sejak pertama kali bertemu dengannya, saya selalu mengagumi kecantikan Rizqa. Tetapi, sejak saat itu, selalu saja ada hal yang bisa saya kritisi dari penampilannya. Ini contohnya: Saya tak begitu suka pipinya yang terlalu tirus. Dan meskipun banyak teman-temannya yang iri pada tubuh Rizqa yang selalu ramping, saya tak benar-benar menyukainya. Bagi saya, Rizqa selalu terlalu kurus untuk perempuan ‘cantik’ tipe saya. Sejak menikah dengannya di tahun 2009, saya selalu memintanya menaikkan berat badan. Saya menggodanya untuk makan banyak. Dia mengikuti nasihat saya. Lalu kami menjelajahi banyak tempat makan enak. Sialnya, Rizqa tetap saja kurus sementara laju berat badan saya tak terbendung!

Semua itu membuat saya mulai memakai satuan kilogram sebagai penanda waktu: Sejak pertama kali menikahi Rizqa 25 kg yang lalu, saya tak pernah berhasil memahami bagaimana metabolisme tubuhnya bekerja. Dia bisa makan enak sebanyak yang dia mau, tapi tak pernah mendapatkan masalah kelebihan berat badan. Suatu pagi, dia menjerit girang dari kamar mandi, berat badannya naik! Buat saya, itu bukan berita baru yang menggembirakan, berat badannya tak pernah beranjak dari kisaran 41 atau 42 kg… Seperti pagi itu, 43 adalah berat badan terbaiknya. 

Maka saat Rizqa hamil, dia segera menjelma menjadi perempuan cantik tipe saya yang sesungguhnya. Pipinya lebih berisi, membuat wajahnya lebih cerah, senyumnya lebih indah. Dari semua alasan mengapa saya percaya bahwa kehamilan meningkatkan kecantikan seorang perempuan, persepsi subjektif saya tentang Rizqa mengalahkan semuanya. Melihat Rizqa bangun pagi dengan berat badan 46 atau 48 atau 50 kg, dengan cahaya pagi menyinari sebagian wajah dan rambutnya, saya melihat seorang istri yang mengagumkan. Saya melihat seorang ibu bagi benih cinta kami berdua. Maka bagi saya, angka 27.3% menjadi tak penting lagi, seperti tak pernah penting dari mana angka itu berasal. 

Sebagai seorang suami, saya selalu menikmati hari-hari yang pendek ketika istri saya sedang mengandung. Sembilan bulan selalu sangat singkat. Ketika pagi hari mendengar kabar bahwa istri saya hamil, saya berjanji akan jadi suami siaga. Tetapi sore harinya, saya lupa mencuci piring... Dan Rizqa juga yang harus melakukannya. Malam harinya saya minta maaf, seraya berjanji besok pagi akan lebih giat lagi mengerjakan tugas-tugas domestik.

Apa yang terjadi keesokan harinya? Ah, kelemahan seorang lelaki romantis adalah sifatnya yang pelupa, bukan? Maka Rizqa tetap menjadi seorang istri yang mengerjakan hampir semua pekerjaan rumah dengan baik. Meski sedang mengandung, dia tetap yang mengurusi semuanya, dari menyiapkan sarapan buat saya hingga melipatkan baju tidur saya. Dari mencuci baju hingga merapikan tempat sepatu. Di rumah, tugas saya selalu sederhana saja, seperti di film-film: Membelikan bunga atau cokelat, menulis puisi, atau mengajaknya menari di dapur sambil bernyanyi dengan cara pengambilan nada awal yang melulu terlalu tinggi satu ketukan. Saya selalu suka ketika Rizqa menertawakan saya bernyanyi. Saya selalu suka caranya tertawa.

Dan sembilan bulan pun berlalu begitu cepat…

Kali ini Rizqa sedang mengandung anak kedua kami. Tak terasa usia kandungannya sudah 38 minggu. Sesuai perhitungan dokter, kami tinggal menunggu hari saja, atau mungkin jam, sampai Rizqa diserang rasa mulas hebat bertubi-tubi yang membuatnya harus terbaring di ranjang persalinan. Saya ingat empat tahun lalu, hari di saat Rizqa akan melahirkan anak pertama kami, Kalky…

Kapan seorang perempuan tampak sangat buruk rupa? Mungkin saat mereka sedang melahirkan seorang bayi dari rahimnya. Wajahnya yang kusut dan rambutnya yang lengket dengan keringat. Teriakan-teriakannya. Gerak-gerik dan gesturnya yang tak enak dipandang mata. Semua kerut di wajahnya. Semua hal buruk dari penampilannya. Sebagai seorang suami yang pernah menemani istrinya melahirkan, saya bisa mengatakan bahwa: Ketika seorang perempuan tengah berjuang di ranjang persalinan, kecantikannya menurun sekitar 61.3% dari penampilannya di hari-hari biasa. Karena satu dan lain alasan, angka itu bisa saja makin besar.

Tetapi, jika Anda pernah mengalami perasaan seperti saya mengalaminya, justru di saat-saat seperti itulah kita begitu mencintai dan mengagumi seorang istri. Di saat-saat seperti itu, kita tak lagi mempedulikan paras, penampilan, bau badan, atau apapun yang fana dan kasat mata. Cinta ternyata bukan tentang apa yang kita lihat dengan mata atau apa yang kita dengar dengan telinga. Cinta adalah apa yang kita rasakan… jauh… jauh hingga lubuk hati yang terdalam. Di mana kita menyayangi seseorang bukan karena penampilan fisik atau bentuk tubuh, tetapi sesuatu yang melampaui semua itu.

Saya selalu ingat ketika melihat istri saya sedang melahirkan, saat semua ego saya sebagai seorang laki-laki tiba-tiba runtuh. Di sana saya baru menyadari bahwa sepanjang sejarah ternyata laki-laki tak pernah lebih kuat dari seorang perempuan. Mungkinkah ada peradaban manusia tanpa kehadiran seorang ibu? Tak! Apa yang kita puja-puji dari penampilan seorang perempuan, tak berarti apa-apa dibanding keagungan, keberanian dan pengorbanannya untuk menjaga rasa cinta dan kasih sayang yang dititipkan Tuhan pada manusia. Perempuan adalah ibu, yang melahirkan, melindungi, merawat, dan membesarkan peradaban.

Hari-hari ini, jam-jam ini, Rizqa mulai mengeluhkan rasa sakit dan mulas menjelang persalinannya. Beberapa kali dia meminta saya memijat punggungnya atau sekadar mengusap-usap bagian belakang perutnya. Tiba-tiba saya dijerang ketakutan yang luar biasa. Tiba-tiba kekhawatiran menguasai sebagian besar wilayah perasaan saya. Maka di antara semua pikiran buruk, saya selalu berusaha menyelipkan doa: Semoga dia baik-baik saja dan Tuhan memberikan kekuatan yang jauh lebih besar dari mahasakit yang akan dihadapinya.

Ternyata, saya mencintai istri saya. Sangat mencintainya. Ternyata, saya sangat menyayangi Rizqa. Jauh melebihi alasan apapun tentang bahwa dia cantik atau tidak, tentang ukuran-ukuran berat badannya, tentang apa saja. Saya selalu bilang pada Rizqa bahwa mungkin saya lebih mencintai dan menyayangi Kalky daripada mencintai dan menyayanginya. “Tidak apa-apa,” katanya, sambil tersenyum. Senyum terbaik di dunia. Tetapi perlahan ada perasaan asing yang muncul dari dalam hati saya, semacam pertanyaan: Mungkinkah akan ada Kalky jika saya tak menikahi Rizqa? Mungkinkah ada anak yang sangat saya sayangi tanpa Rizqa yang mengandung dan melahirkannya?

Suatu hari Rizqa pernah memberi saya teka-teki yang sulit: Jika saya harus memilih kehilangan Kalky atau kehilangan Rizqa, mana yang akan saya pilih? Saya pernah menjawab pertanyaan itu dengan dua ‘kemungkinan’ jawaban yang tersedia. Tetapi rasa takut dan khawatir salalu menjadi awan gelap dalam pikiran saya.

Tinggal beberapa hari lagi, atau beberapa jam lagi, Rizqa akan melahirkan. Saya ingat semua janji saya tentang ingin menjadi tua bersamanya. Tentang ingin selalu membuatnya tersenyum. Tentang mengobati semua rasa sakitnya. Tentang membahagiakannya. Tentang mengajaknya naik haji bersama. Tentang mencuci piring dan membagi pekerjaan rumah berdua. Tentang membangun halaman belakang impiannya. Tentang tidak tidur terlalu malam. Tentang apa saja. 

Ah, adakah yang lebih menenangkan daripada doa-doa?

Melbourne, 13 November 2014

Fahd Pahdepie

Menjaga Itu, Sesuatu

Wuwuwuwuu sepanjang mata memandang, kok isinya sarang laba-laba semua yah? Wkwkwkwk ternyata sudah terlalu lama ditinggalkan ya blog ini hehehee hampir setengah tahun nggak nulis ternyata :') . Okee kali ini mau bersih2 dulu deh sambil cari inspirasi *ambil sapu dan pel-pelan


*Tarik nafas dalam-dalam. Yak! Entah kenapa kali ini ingin membicarakan sebuah kata yang dinamakan 'menjaga'. Menjaga apa nih? Menjaga diri, jaga hati, dan jaga iman. Sesuatu yang mudah diucapkan tapi sungguh sulit untuk dilaksanakan. Sebab segala macam jenis godaan datang silih berganti hanya untuk satu tujuan yang sama: MENGGOYAHKAN. Ah, memang kadar keimanan seseorang itu naik turun adanya. Dan setiap orang akan memiliki persoalan dengan keimanannya masing-masing. Apalagi ketika merasa sedang jauh (dan biasanya, kalo dikasih musibah baru deh mendekat lagi. Sedang kalo udah dikasih nikmat jadi lupa lagi deh. Ah!). Entahlah, tapi buat aku pribadi, aku merasa masih saja sering luput dalam menjaga yang tiga itu. Apalagi, niat menjaganya karena apa. Karena siapa. Sering aku salah menempatkan niatku yang masih berorientasi kepada manusia. Padahal sudah tau sendiri, kalo siapapun itu, manusia yang bahkan paling dekat sekalipun dengan kita pasti punya potensi besar untuk menyakiti, membuat kecewa, dan segalanya yang sedih-sedih. Dan seharusnya niat dalam menjaga itu bukan demi manusia, melainkan hanya demi Allah semata. Karena, jangankan mau bikin yang sedih-sedih, Allah aja tidak punya niatan sedikit pun untuk mengecewakan, apalagi mencelakakan hambaNya. Dan bahwa Ia yang Maha Sempurna, makanya Ia tidak akan pernah melakukan sedikitpun kesalahan dalam memperlakukan hambaNya. Maksudku, kalo memang seseorang yang dekat dengan kita itu pernah membuat kecewa padahal dia tidak bermaksud dan berniatan untuk itu, maka akan lain dengan Allah. Karena Beliau itu Maha Sempurna, sesungguhnya Allah lah yang sangat tau dan memahami siapa diri kita sebenarnya, melebihi kita memahami diri kita sendiri, apalagi orang lain yang 'kelihatannya' memahami kita.


Yah, kembali lagi. Kalo memang menjaga itu, niatnya bukan demi manusia tapi hanya demi Allah saja. Kalopun hal ini diterapkan dalam konteks menjaga untuk jodoh di masa datang, maka jagalah diri, hati, dan imanmu demi Allah, untuk jodoh terbaik siapapun kelak yang sudah Allah siapkan untukmu. Karena, kalo kamu disini berusaha memperbaiki diri, insyaAllah jodohmu disana juga demikian. Sebab Allah sudah berjanji bahwa laki-laki yang baik adalah utnuk perempuan yang baik, perempuan yang baik adalah untuk laki-laki yang baik, dan sebaliknya. Maka semoga Allah karuniakan kita kekuatan dan penjagaan dalam keistiqomahan dalam menjaga apa-apa yang seharusnya dijaga, hingga akhir hayat kita nanti, dengan niatan yang memang hanya dipersembahkan untuk Allah semata. Sebab kemampuan manusia hanya sebatas mengikhtiarkan dan memohon semaksimal mungkin, sedang penentuan akhirnya hanyalah hak prerogatif Allah saja.

Jumat, 11 Juli 2014

Kau, Palestina

Kau, Palestina
Berapa banyak air mata telah tumpah di atas bumimu di sana?
Air mata yang kelak menjadi saksi di hadapanNya
Sungguh itulah air mata peredam api neraka, tiket termahal sehingga Allah perkenankan untuk engkau masuk ke surga

Kau, Palestina
Berapa banyak nyawa yang telah terenggut syahid di sana?
Bahkan anak-anak pun tidak segan mereka sakiti dan syahidkan pula
Ah iya.. Bukankah syahid sudah menjadi cita-cita yang sungguh begitu mulia?

Kau, Palestina
Engkau sungguh sedikitpun tak pernah gentar menghadapi mereka
Walau katanya senjata mereka lebih canggih, bahkan mungkin yang tercanggih sedunia
Walau keadaanmu disana bisa berubah menjadi mencekam seketika, kapan saja
Lalu setelah itu wangi darah para syuhada tercium dimana-mana
Sebab Engkau yakin, senjatamu lebih hebat dari senjata apapun di dunia
Sebab Engkau yakin, senjatamu Al-Qur'aanul Karim bahkan bisa meruntuhkan langit negeri mereka pada saat itu juga
Sebab Engkau sungguh haqqul yakin, ada Ia yang Mahasatu, Ahad, Allahuahad

Kau, Palestina
Rasul telah bersabda bahwa, aku dan kau adalah satu
Aku dan kau layaknya sebuah bangunan yang saling mengokohkan satu sama lain, seharusnya
Sesungguhnya demi melihat Engkau di sana, betapa tidak kuasanya hati-hati kami yang ada disini
Namun maafkan kami.. Mungkin hanya sebatas ini cara kami untuk berusaha mengokohkanmu
Semoga doa kami, doa kita yang terbumbung di langit mampu untuk lebih menguatkanmu
Entah harus dengan cara apa kami berterima kasih kepada engkau, wahai jiwa-jiwa penjaga Al-Aqsa

Allah..
Kepada mereka yang mungkin makan sahur di dunia, lalu menikmati berbukanya di surga sebagai hadiah kesyahidannya
Kepada mereka, yang hafizh hafizhah kecilnya harus sudah berkutat dengan peperangan dalam usia yang masih belia
Kepada mereka, yang bahkan harus selalu dijaga oleh tentaranya tatkala mempelajari kalamMu sebab belajar Al-Quran disana tak seaman itu
Kepada mereka, yang harus selalu waspada akan keselamatan jiwa, anak, serta istrinya tapi tak pernah sedikitpun mau menyerah begitu saja
Mohon jaga selalu dimanapun keberadaannya, dalam apapun kondisinya
Mohon karuniakan ketenangan dalam setiap hati mereka
Kami sungguh percaya akan datangnya pertolonganMu, bahkan untuk sesuatu yang mungkin kami tidak dapat melihatnya sekalipun
Seperti saat ketika Engkau mendatangkan rombongan burung Ababil pembawa kerikil panas dari neraka untuk menyerang pasukan gajah yang berusaha menghancurkan Ka'bah
Seperti saat ketika Engkau kirimkan para malaikat untuk membantu pasukan kaum Muslimin dalam perang Badar, padahal saat itu perbandingan dengan musuh sungguh membuat nyali ciut tetapi Engkau menunjukkan kuasaMu, Engkau memenangkan kami
Allahuakbar
Dengan cara apapun itu, ya Rabb.. Kami tahu kuasaMu melebihi apapun, meliputi segala apapun
Kami percaya akan kehendakMu, yang sewaktu-waktu bisa mengguncangkan bumi Israel seketika hanya dengan "Kun"
Kami yakin Engkau sendirilah yang akan menjaga Masjidil 'Aqsa layaknya Engkau menjaga Ka'bah, kepemilikanMu, ya Rabb..

Kau, Palestina
Dalam setiap tetes air mata ini, dalam setiap doa yang terpanjatkan dari hati
Untuk setiap darah dan tetesan air matamu di sana
Percayalah wahai saudaraku para pejuang Al-Aqsa
Gusti Allah mboten nate sare...

PALESTINE WILL BE FREE (By Maher Zain)

Every day we tell each other
That this day will be the last
And tomorrow we can go home free
And all this will finally end
Palestine tomorrow will be free
Palestine tomorrow will be free

No mother no father to wipe away my tears
That's why I won't cry
I feel scared but I won't show my fears
I keep my head high
Deep in my heart I never have any doubt
That Palestine tomorrow will be free
Palestine tomorrow will be free

I saw those rockets and bombs shining in the sky
Like drops of rain in the sun's light
Taking away everyone dear to my heart
Destroying my dreams in a blink of an eye
What happened to our human rights?
What happened to the sanctity of life?
And all those other lies?

I know that I'm only a child
But is your conscience still alive?
I will caress with my bare hands
Every precious grain of sand
Every stone and every tree
Cause no matter what they do
They can never hurt you
Cause your soul will always be free
Palestine tomorrow will be free
Palestine tomorrow will be free


Tears of Palestine...


Kids of Palestine



Let's keep du'a..

Sabtu, 05 Juli 2014

Tentang, Bagaimana Cara Meluaskan Hati

Terlalu, ya Rabb..
Terlalu sempit rasanya hati ini
Begitu sulit sepertinya bagi hamba untuk membuatnya lebih luas lagi
Hingga, sedikit saja tersakiti, akan begitu sesak terasa dalam dada ini
Hingga, sedikit saja tersakiti, memaafkan menjadi hal yang sungguh memberatkan  hati
Padahal ya Rabb.. Sesungguhnya hamba tak pantas 
Sebab hamba bukanlah siapa-siapa, dan hanya Engkaulah Sang Maha Pengampun
AmpunanMu begitu luas dan tak terperi, bahkan untuk mereka yang pernah mendustai

Ajarkan kepada hamba, ya Rabb..
Tentang bagaimana cara untuk membuatnya menjadi lebih luas, seluas-luasnya
Agar ia yang bernama sabar, ikhlas, maaf, bisa benar-benar merasuk ke dalam sanubari
Supaya apapun yang terjadi padanya nanti, hamba mampu mengembalikan sepenuhnya kepadaMu
Sebab dengan begitu, beban di hati akan terkurangi, bahkan terangkat sama sekali
Karena sejatinya, diri inilah yang membuatnya merasa terbebani

Jangan Engkau lepaskan hamba, dan menyerahkan hamba kepada diri hamba sendiri, ya Rabb..
Belum lagi sebagai seorang wanita, akan ada masa-masa yang mungkin akan menjadi penguras emosi
Karena hamba tidak ingin kesempitan hati ini menjadi bumerang bagi diri
Yang akan menggerogoti, dan menjadikan hamba menjadi manusia yang tak punya hati
Dan sungguh ya Rabb, hanya kepada Engkaulah satu-satunya tempat berlari, tempat berserah diri
Atas segala kesempitan dalam hati, hamba mohon ampun, ya Ilahi Rabbi..
Paring tuntun atur tindak kula, Gusti..



07 Ramadhan 1435 H
Dalam hal yang sama, lagi..

Selasa, 01 Juli 2014

Akumulasi Dosa pada Palpebra Superior Sinistra, Ramadhan Hari Ketiga

Ahlan wa Sahlan yaa Ramadhan, selamat datang wahai bulan Ramadhan.
Bulan penuh ampunan, penuh rahmat, serta bulan yang di dalamnya turun kitab suci Al-Quran, pegangan hidup seluruh ummat nabi Muhammad. Alhamdulillah wa syukurillah, segala puji bagi Engkau wahai Ilah, dzat yang Mahasempurna dan tiada duanya. Yang telah memberikan kami kesempatan serta kesehatan dan kelengkapan iman, insyaAllah, untuk bertemu kembali di bulan yang suci ini.

Hari ini sudah terhitung hari ketiga aku berpuasa hehehe, Alhamdulillah.
Dan kenapa kok judulnya begitu? Iya, soalnya aku mau cerita nih teman-teman. Tau nggak arti dari Palpebra Superior Sinistra? Palpebra= Kelopak Mata. Superior=Atas, Sinistra=Kiri. Maka arti dari palpebra superior sinistra adalah kelopak mata atas yang sebelah kiri. Dan kenapa ada akumulasi dosa disana? Begini ceritanya...

Sore tadi seusai membantu umik menyiapkan makanan untuk berbuka, aku leyeh-leyeh di kasur dan mendadak kelopak mata kiriku gatal sekali. Semakin digaruk malah semakin gatel aja rasanya =="
Lalu mendadak jeduar jeduar, ternyata muncul benjolan disana. Semakin lama rasanya ia berkembang jadi semakin besar saja. Dan sudah barang tentu, waktu adikku lewat dan melihat kelopak mata kiriku, tawanya terpingkal bukan kepalang -___-
Ya jelas saja, orang baru beberapa menit yang lalu kami bercanda dan mataku baik-baik saja. Lha kok yaa sekarang udah ada benjol sebesar kelereng di atasnya wkwkwk

Kata umikku, itu timbilen. Hmmm sepertinya akhir-akhir ini aku ndak pernah ngasih sesuatu ke seseorang lalu kuambil lagi. Tapi tapi tunggu dulu. Setelah kupikir lagi, memang aku ada niat untuk memberikan sesuatu, tapi itu belum terlaksana dan emm nggak mungkin aku ambil lagi kayaknya, karena sesuatu itu sekali pakai langsung habis. Lha tapi kan itu pun belum kejadian =="
Curigaku, sebelum leyeh-leyeh di kasur, aku tiduran di musolah rumahku. Dan belakangan diketahui kalo di musolah ada banyak semut kecil. Yaa entahlah mungkin kelopak mataku sempat digigit tanpa aku menyadarinya atau gimana. Tapi lama kelamaan, aku sadar. Entah dugaanku tentang semut itu betul atau tidak, tapi diluar itu semua, aku teringat akan sesuatu. Ya, aku diingatkan sama Allah dengan kejadian kemarin Maghrib. Aku ingat saat itu seluruh keluargaku sudah pergi ke musolah dekat rumahku untuk melaksanakan sholat Maghrib berjamaah, dan aku berangkat terakhir ke musolah. Tapi... dasar akunya yang nakal, sebelum pergi aku masih sempat-sempatnya menghidupkan televisi padahal di musolah sudah iqomah dan sebetulnya akupun sudah mengenakan mukenah. Tahu apa yang ingin aku tonton di televisi? Tayangan hafidz itulo, yang sekarang sedang in. Aaah padahal itu sudah bukan waktunya para hafidz itu mengaji, ya wis mau habis lah sebetulnya acara itu. Tapi aku masih menontonnya hingga membuat aku jadi makmum masbuq dan terlambat sholat Maghrib 2 rakaat :""

Allah, mungkin ini yang namanya pelajaran. Mungkin memang bukan acara buruk yang aku tonton, tapi sekali lagi tetap saja, itu sudah masuk waktu sholat Maghrib kan :" Dan itu artinya aku sama saja dengan menduakan Allah. Kalau bahasa Abiku, aku itu sudah syirik walau syiriknya bukan seperti orang terdahulu yang menyembah berhala. Hanya saja, sudah bukan Allah yang dinomorsatukan, karena aku lebih mendahulukan acara televisiku...

Untung saja, Allah cuma kasih benjol di satu mata. Untung saja, dikasihnya pas sekarang, bukan waktu nanti mungkin waktu hari raya (semoga tidak..aamiin T.T). Dan mungkin ini bukan hanya karena masalah yang kemarin saja, tapi bisa jadi sudah merupakan akumulasi dosa-dosa yang dilakukan oleh mata. Ibaratnya, dosa mata yang awalnya sedikit tapi makin lama makin menumpuk hingga membentuk sebuah benjolan di kelopaknya. Maka pelajaran yang bisa diambil disini adalah, jangan suka menunda, apalagi saat waktu untuk menghadap Sang Maha sudah tiba. Pun, jangan suka melihat apa yang tak patut dilihat oleh mata.

Ampuni hamba, ya Rabbi.. semoga ini mampu menggugurkan dosa-dosa mata yang bertumpuk-tumpuk itu, dan sungguh sejatinya benjolan ini tidak seberapa bila dibandingkan dengan mereka yang bahkan Engkau takdirkan untuk tak dapat melihat keindahan dunia sepenuhnya..

Faghfirlana, faghfirlana.... :"(


Minggu, 08 Juni 2014

Teruntuk Laki-Laki yang Pernah Menempati Rahim yang Sama, dalam Masa yang Berbeda

Aku mencintaimu semenjak Engkau bersemayam dalam rahim umik. Hingga saat ini, hingga detik ini, hingga kapanpun yang tak terkecuali, insyaAllah. Teringat saat usiamu baru satu hari, Engkau dibawa pulang ke rumah kita dan aku sungguh menyambutmu dengan suka cita setelah sebelumnya aku sempat menggerutu sebab aku tidak turut serta diboyong bersama umik dan abi demi melihat langsung proses pelahiranmu. Teringat saat usiamu masih balita, 3 tahunan mungkin. Kita pernah bermain kejar-kejaran saat dititipkan di rumah budhe dan aku mendorongmu hingga Engkau terjungkal keluar dari pintu rumah dan bibirmu sobek berdarah. Ah aku sungguh menyesali hal itu, sungguh aku tanpa sengaja melakukannya sebab aku ketakutan karena dari belakang sudah ada yang mengejarku dan Engkau yang notabene masih berumur 3 tahun dengan larimu yang bahkan masih belum kencang ada di depanku, refleks aku mendorongmu hingga Engkau terjatuh. Padahal saat itu, abi dan umik pulang membawakan oleh-oleh dua buah kaos kembar untuk kita. Ahahahaa dan hingga saat ini, Kamu bahkan masih ingat insiden berdarah itu. Sungguh, aku minta maaf ya adikku :')
Pernah juga kejadian waktu aku sebel sama Kamu, aku nyubit pahamu sampe Kamu nangis dan aku diancem mau dilaporkan ke polisi sama Abi kalo ternyata bekas cubitanku membekas biru di pahamu. Dan akhirnya aku juga ikutan nangis dan meminta maaf kepadamu.. Ah, segitu banyak kesalahan dan kenakalan yang aku lakukan kepadamu, dan selalu saja berakhir dengan kata maaf dariku, dan pasti Engkau dengan tulus hati memaafkan kakakmu yang bandel ini. Hihihi terimakasih ya adikku, aku betul-betul harus banyak belajar darimu tentang bagaimana cara meluaskan hati sehingga mudah sekali memberi maaf kepada mereka yang pernah menyakiti, bahkan sampai saat ini hanya Engkau yang ahli dalam urusan maaf memaafkan ini. Sedangkan aku? Hahahaa aku mengaku kalah :""

Oh ya, satu lagi kebiasaan yang suka kita lakukan di rumah kosong depan rumah budhe adalah apaaa? Jeng jeng jeng yak betul, berlomba menangkapi lalat dengan gelas aqua! Hahahaa betapa mengasyikkannya ya masa-masa itu. Sering juga kita main kemah-kemahan dengan atap selimut yang diikat tali rafia di ujung tempat tidur di sisi satunya, sedangkan sisi lainnya diikat di mana saja entah jendela atau yang lainnya, yang penting atap perkemahan kita harus benar-benar bisa menaungi kita waktu tidur di bawahnya hahahaa. Belum juga kesukaan kita membuat 'kolam renang dadakan' di dalam kamar mandi dengan menyumbat jalan air sehingga air yang kita tumpahkan bisa tergenang dan jadilah kita berenang-renang di atasnya. Tapi Abi nggak suka sebab kelakuan kita itu bisa bikin lantai kamar mandi menggembung. Namun tetap saja, kalau Abi sedang tidak ada di rumah, kita ulangi lagi pembangunan kolam renang dadakan itu soalnya umik fine-fine saja dengan mainan kita yang itu hahahaa nakalnya kita dulu. 

Ah iya, ada lagi kisah yang pernah umik ceritakan kepadaku. Waktu zaman krisis moneter dulu, semua harga kebutuhan pokok pada melonjak tinggi termasuk susu formulaku. Tapi ada satu tempat yang menurut kabar, belum sempat terimbas krisis moneter jadi harganya masih murah. Maka jadilah umik yang sedang mengandungmu, bervespa berdua abi menuju ke supermarket Galaksi. Iyaa Galaksi. Bayangkan betapa jauhnya bukan? Dengan perut besar umik yang ada kamu di dalamnya. Pernah juga waktu aku TK dan hampir tenggelam di kolam renang, umik langsung menceburkan diri menyelamatkanku padahal ketika itu aku ingat betul, umik lagi mengandung besar. Ya mengandung siapa lagi kalo bukan Kamu hihiii. Aah ternyata begitu besar jasamu kepadaku ya adikku, Engkau turut andil dalam menyelamatkan hidupku :")

Aku juga senang menggodamu waktu masih kecil dulu. Selalu mengajak kita berlomba makan entah itu roti, es krim, ataupun yang lainnya. Dan selalu saja Kamu yang 'aku menangkan' soalnya memang aku sengaja biar punyamu yang habis duluan sedangkan punyaku masih baru kemakan sedikit. Hahahaa dan aku 'pura-pura turut senang' menyelamatimu yang selalu juara nomer satu kalo lomba makan sama aku :3
Tapi sayangnya semakin Kamu besar, semakin Kamu sadar kalo aku sudah melicikimu selama ini dan Kamu nggak pernah mau lagi diajak lomba ngabisin makanan sama aku wahahahahaa Alhamdulillah ya, akhirnya Kamu sadar :3
Nggak cuma berhenti di situ aja sesi jahilku sama Kamu. Aku ingat sekali dulu ketika usiamu baru menginjak beberapa bulan, waktu itu malam menjelang dan aku sedang merasa betul-betul tidak diperhatikan mungkin sama umik. Jadilah aku pura-pura menangis meraung-raung (dan anehnya air mataku tetep keluar walaupun aku cuma pura-pura. memang dasar tukang akting ya --") duduk dibawah meja di depan kamar tidurmu. Nangis pura-puraku itu nggak berhenti sampe kamu ditidurkan sama umik dan akhirnya umik menggendongku. Hahahaa maaf ya Tole, aku merebut jatah perhatianmu padahal seharusnya sebagai kakak yang baik, aku ikut menidurkanmu kala itu dengan menyanyikanmu lagu nina bobok :'D

Oh yaa ada lagi. Dulu waktu kamu kecil dan sedang sakit, aku selalu berusaha ingin cepat-cepat sampai ke rumah sepulang dari sekolah demi melihatmu di rumah dan menghiburmu dengan tingkah Mister Beanku yang pura-pura jatuhlah, pura-pura melompat dari atas kasurlah, dan kepura-puraanku yang lainnya. Dan aku akan senang sekali ketika Kamu tertawa saat melihat kepura-puraanku yang satu ini hahahaa setidaknya kepandaianku berpura-pura masih ada manfaatnya :3 Aaah, tiba-tiba saja terngiang di telinga suara tertawamu saat Engkau kecil dulu :')
Ada juga kisah waktu kita SD dulu, Kamu kelas 2 dan aku kelas 6. Aku dapet berita dari temenku waktu sedang istirahat kalo kepalamu benjol gara-gara disenter bola sama teman laki-lakiku. Dan celakanya teman laki-lakiku itu adalah laki-laki yang sedang aku sukain ceritanya hahahaaa. Tapiii aku sudah tidak peduli. Dengan tampang sok heroikku aku langsung turun menuju kelasmu dan meminta penjelasan kepada teman laki-lakiku itu. Uh, berani-beraninya dia bikin benjol kepala adikku! *eh? dulu sampe benjol nggak ya kepalamu Dek? :p

Duh masih begitu banyak cerita tentang kita, yang semakin aku tuliskan disini, semakin menguak dan menuntun memoriku untuk melanglang lebih jauh ke masa-masa kecil kita dulu. Kau tau apa yang membuatku menuliskan tentang kita malam ini? Ya.. Sebab quality time kita tadi, meski hanya sebentar namun sarat makna,, buat aku. Sebab aku merasa Engkau masih benar-benar adikku, satu-satunya seseorang dengan garis keturunan yang sama walau dengan sifat yang berbeda. Sebab terkadang aku merasa jauh, sangat jauh denganmu walau nyatanya kita ada dalam satu atap setiap harinya. Sebab aku sering tidak memperhatikanmu, tidak memperhatikan kehidupan remajamu, kehidupan sekolahmu, ah banyak sekali yang rasanya aku luputkan dari dirimu. Sebab terkadang aku bertanya-tanya kepada diriku sendiri, "Benarkah aku mengenali betul sifatmu luar dalam sebagai adik laki-lakiku?"  :"""

Semangat sekolahnya ya, Le.. Semangat mengejar cita-citanya. Semoga cita-cita jadi insinyur lulusan ITBmu kelak dikabulkan oleh Allah. Semoga setiap langkahmu diliputi kemudahan, keberkahan, dan sedang dimana saja keberadaanmu dan dalam keadaan apa saja kondisimu, Allah tetap bersamamu selalu, tak pernah meninggalkanmu...
Jadilah laki-laki yang soleh dan imam terbaik dunia akhirat untuk istri sholehahmu kelak, jadilah ayah terkece sedunia untuk anak-anakmu kelak, jadilah anak pembawa surga dalam dunia maupun dalam akhirat untuk umik dan abi kita. Semoga Engkau selalu dalam penjagaan-Nya, doaku untukmu wahai adikku tercinta... {}



Yang ditakdirkan lebih dulu menempati rahim umik sebelum kamu,

                                                                               Mbak


Minggu, 01 Juni 2014

Harapan itu Akan Selalu Ada… (by Asa Mulchias)

Adakah pertolongan yang Allah beri untuk orang-orang yang berputus asa? Putus asa itu dosa. Maukah Allah menolong orang yang berputus asa dari rahmatNya? 

Pertolongan datang dimulai dari hati yang penuh harapan. Tidak pantas mendapat pertolongan orang-orang yang bahkan tak percaya dengan pertolongan itu sendiri. Allah membenci orang yang putus asa. Sangat benci bahkan.


Untuk itulah, Kawan… jika kau masih lupa tentang keajaiban karena bertemu terlalu banyak kehancuran, liriklah lembah nan hijau. Gunung yang kokoh. Langit yang terbentang. Untuk orang-orang yang berputus asa, betul yang kaukatakan: memang tak ada harapan. Dalam hidupmu kau akan selalu menemuinya. Kian hari makin yakin saja. Makin lama, tak ada lagi yang kan mampu menggoyah imanmu: keajaiban itu omong kosong belaka. Milik orang-orang yang bermimpi dan lupa. Semua akan terus begitu… sampai kau benar-benar menyadari: Allah selalu mencatat setiap kepercayaanmu dan mengabulkannya. Ingatlah: Allah sesuai prasangka hambaNya.

Karenanya, kau akan dapati di tempat lain, di hati lain, di jiwa yang lain, tidak demikian kata “harapan” dikelola. Ada yang mampu menuliskannya dengan sempurna, tanpa cacat, dan bersinar tiap harinya. Bukan karena ia tak bertemu realita, tapi ia selalu berkata, “Keajaiban adalah milik Allah. Realitas pun juga. Apa sulitnya Allah menunjukkan yang satu dan menghilangkan yang lainnya?” Air tak mungkin dibelah, tapi ada kisah Laut Merah. Bulan tak mungkin dipisah, namun Rasulullah melakukannya. Kau boleh bilang, “Itu kan Nabi!” Ah, naifnya. Ini bukan soal nabi atau bukan. Ini masalah Allah berkehendak menolong atau tidak. Yang membelah laut bukan Musa, wahai Kawan.Yang memisahkan bulan bukan Rasulullah, wahai Sahabat. Jika Allah menolongmu, tidak ada satu pun yang menghalangi. Begitu pula sebaliknya. Jika Allah tak menolongmu, maka tak satu pun mampu membantumu. 


Keajaiban persis seperti itu. Bukan soal kau itu siapa. Tapi masalah apakah kau percaya. Apakah Allah mau menunjukkannya pada kita… (Asa Mulchias)

Rabu, 21 Mei 2014

Berbicara tentang Jodoh

Sangat paham sekali, semakin usia bertambah dewasa seperti ini, bukan hal yang bisa dielak kalo akan ada satu tambahan lagi pemikiran dalam otak ini yaitu masalah jodoh. Wkwkwk yaa betuul, untuk anak gadis yang sudah berusia 20 tahunan seperti aku ini, walaupun lah 20 tahunnya masih already, tapi yang begitu itu sudah masuk list buat dipikirkan. Entahlah, tiba-tiba dia masuk aja ke pikiran tanpa pake permisi. Ya, mungkin sudah waktunya untuk memikirkan masa depan lah ya hahahaa. Dan bukan hanya dipikirkan oleh diri sendiri, entah mengapa sepertinya lingkungan pun juga punya pemikiran yang sama. Maksudnya di sini adalah, emm apayaa.. Semacam lingkungan itu merespon apa yang jadi pikiran di otak ini. Jadi bukan hanya sekali dua kali aku pernah didekati atau ditawari untuk berkenalan sama laki-laki. Yaa semacam itu maksudnya. Dan memang itu dari pihak laki-lakinya yang memulai, entah itu lewat orang lain maupun dirinya sendiri. Ya secara juga, memang takdir berkata bahwa laki-laki lah yang bisa menginisiasi. Sudah kodrat sih menurutku hehehee. Termasuk yang terjadi pagi ini di kantin seusai kuliah tadi. Yang bikin aku tergerak buat menuliskan kisah ini :p

Ibu kantin: "Lhooo mbak'e iniii aduuh sudah lama ndak nyambangi ibuuk. Wes lama ndak beli kue."
Me: "Muehehehee iya buuk, maaf. Kapan hari aku kesini ibuke udah ndak ada ee.."
*memang kepada ibu kantin yang satu ini, aku begitu dekat sampe heboh-heboh sendiri kalo lagi ketemu. Dan biasanya dalam setiap pertemuan, bisa ditemukan adanya unsur pemaksaan dari si ibuk biar aku beli kue jualannya hahahaa piss buk :p*
*Jadi ceritanya lagi pilih-pilih kue nih, tiba-tiba si ibuk nyeletuk*
Ibu kantin: "E, ada yang mau kenalan lhoo, anak teknik. Gimana? Mau?" *sambil mengerjap-ngerjapkan mata --"
Me: "Hah? Sungguan Buk? Lha emang tau aku ta? Kok bisa tau aku? Dan kenapa harus aku??"
Ibu: "Iyaaa, jadi dulu kan dia pernah makan di kantin sini, terus ngeliat mbak'e dan dia minta ibuk buat ngenalin, tapi ibuk mau bilang ke mbak'e duluu. Kan nggak enak kalo ibuk langsung ngenalin dan ternyata mbak'e sebetulnya ndak setuju. Terus kan kalo malem, ibuk jualane di alun-alun dan sering ketemu dia. Piye piye? Mau yaa?" *duuuh ibuknya inii.. tau banget deh kalo aku nggak bisa an buat nolak, tapi itu kalo ibuk lagi nawarin kue, buk. Bukan masalah yang beginian --"
Me: *bingung cari kata-kata penolakan* "Emm yaa duh gimana ya Buk. Aku ini udah punya, eh ndak juga sih, tapi anu....."
Ibuk: "Lhooo? Udah punya to? Belum kaaan? Tetanggaan gini lhooo" *Maksudnya fakultasku dan fakultas teknik itu emang deketan*
Me: "Iya buk tapi anuu.. Jadi gini, aku kan ndak mau pacaran to.. Aku lagi menjaga hati istilahe sekarang Buk. Dan emang aku ndak sreg aja kalo digitu-gituin"
Ibuk: "Lhoo, jadi nggak boleh nih ya? Ndak mau ya? Ibuk minta nomer hpne mbak'e wees boleh boleh?" *harusnya aku tinggal jawab 'iya' aja, pasti udah beres itu urusan. Tapi dasar emang aku nggak tegaan atau aku memang sudah ndak waras, rasanya kalo aku bilang 'iya' gitu aku ndak sampai hati, semacam kecewa banget gitu ibuknya apalagi mukanya tadi dimelas-melasin aaarghh -_- Padahal sebetulnya aku memang nggak suka digitu-gituin. Allah tolong akuuuuu x.x*

Dan akhirnya doaku diijabah. Memang doa orang teraniaya itu langsung dikabulkan ya huahahahaa --"
Jeng jeng jeeng tiba-tiba datanglah peri penolongku dan dia ikut andil berbicara,

Ibu Peri: "Wedeee, emang dia angkatan tahun berapa Buk?"
Ibu kantin: "2010, mbak'ee.."
Ibu Peri: "Ooo 2010 to. Jadi gini Buk, ya gimana ya.. Fida itu single but not available *sumpah aku ngakak denger dia ngomong begitu. maksudnya lhooo? hahahaa --"* dan daripada nanti ujung-ujungnya jadi PHP, kan kasian di Fidanya dan di anaknya juga. Apalagi kalo sampe minta nomer hp pasti ntar sms-sms terus kasihan Fidanya nanti keganggu.."
*Ooohh ibu Periku entah dari langit ke berapa engkau jatuh, aku sungguh mencintaimuuuu <3*
Ibu kantin: "Oooh iya ya bener juga,, daripada PHP hehehee"
Me: "Naah ya gitu buk, kan kasihan anaknya juga. Hehehee maaf ya buk yaa.."
Ibu kantin: "Iya iya mbak'e, makasih lo yaa"

Dan akhirnyaa aku keluar dari kantin dengan kerudung berkibar *biasanya kan rambut yang berkibar, kalo aku mah cukup kerudung aja :p*
dan aku peluuuk si Ibu Peri hahahaaa Alhamdulillah u.u

Dulu pun aku pernah ditawari temenku, 
"Fid aku punya temen nih, anak FK UNS 2011. Anaknya pengen dikenalin ke temenku yang kriterianya berhijab, baik, putih, dan dia suka yang pipinya chubby. Ya aku mikirnya langsung kamu. Soale kan emang kamu paling baik di antara kita dan kriterianya itu kamu banget."
Huahahahaaa pret banget deeh --" Saat itu dia juga memperlihatkan foto temannya itu kepadaku. Yaa langsung kutolak walaupun harus cari alasan dulu. Tapi alasannya memang karena aku nggak suka digitu-gitukan. Dicomblangkan lah istilahnya, apalagi jarak jauh dan jelas-jelas belum pernah kenal sebelumnya. Entah yaa, aku merasa dia (pihak laki-laki) nggak ngerti aja gimana sifatku yang sebenernya (jangankan mereka, temen-temenku yang sehari-hari sama aku aja belum tentu ngerti sifatku ini kayak gimana). Atau at least dia pernah tahu lah bagaimana keseharianku. Lha kalo ini, gimana mau tau lhawong ketemu aja nggak pernah.

Memang sih, mungkin ada yang beranggapan bahwa alasanku itu cuma alasan klise. Mungkin ada yang beranggapan, 'kalo mau mempelajari sifat masing-masing kan bisa nanti sambil jalan. Ya sekarang kenalan dulu ndak papa lah'. Tapi kembali lagi, itu kan hak masing-masing orang buat memilih bagaimana, memilih apa yang menurutnya baik untuk kehidupannya. Memilih apa yang sekiranya sreg di hatinya. Lha lagian kan aku juga nggak pernah tau keseharian mereka-mereka itu. Dan aku kalo udah memilih satu bukan berarti aku berniat buat main-main lalu diputusin gitu aja ketika ternyata nggak sreg. Hahahaa ya, pilihan fase 'penjajakan'ku bukan yang tipe-tipe semacam itu. Aku kan antimainstream :p Dan kepengennya sebisa mungkin menjauhi hal-hal yang semacam itu.

Memang takdir ke depan, kita nggak ada yang tahu. Aku pun begitu. Mungkin saja ternyata kelak aku malah berjodoh dengan salah satu dari mereka itu yang notabene di awal-awal sudah aku tolak dengan halus perkenalannya. Ya gimana ya, jodoh kan rahasia Allah dan nggak ada yang tahu. Tapi sungguh bukan maksud hati buat jadi sok jual mahal atau sebagainya, tapi dari lubuk hati yang paling dalam sih memang aku nggak sreg untuk cara-cara yang seperti itu. Lha gimana mau menjalani kalo dari awal aja hatiku sudah ndak di situ. Hahahaa ya, semacam itu lah. Memang hidup adalah pilihan. Sekali lagi hidup itu pilihan, ia menuntun kita buat jadi pemilih yang baik dan penuh kebijaksanaan. Semoga kelak yang terbaiklah yang didapatkan :D
Aamiin Allahumma Amiiinn...

~Tulang rusuk tak akan pernah tertukar #eaaaa~

Jumat, 16 Mei 2014

Yaa Nurul Qalbi

Kepada yang benama hati, ya Rabb..
Entah mengapa ada yang kepingannya terasa kurang.
Atau mungkin ada yang sepertinya sedang dilanda gersang, kering kerontang.

Kepada yang bernama iman, ya Rabb..
Mungkin selama ini sholat dan mengaji memang dilakukan.
Hanya saja tak diresapi dan dihayati serta diamalkan melalui perbuatan.
Sungguh, betapa menyedihkan, ya Rabb..

Sejatinya diri ini tau ya Rabb, bahwa waktu di dunia sudah berkurang sekian banyaknya.
Sejatinya diri ini mengerti ya Rabb, bahwa masa muda bukan jaminan kelak akan menggapai masa tua.
Sejatinya diri ini terlalu sering lupa ya Rabb, bahwa hidup tidak selesai bahkan setelah mati namun tetap saja melakukan banyak perbuatan dosa.

Bagaimana kelak ketika tiba hari perjumpaan denganMu ya Rabb
Bagaimana kelak ketika hamba berdiri di pengadilanMu ya Rabb
Apa yang akan hamba dengar dari tangan dan kaki ini
Apa yang akan hamba lihat tanpa bisa mengelak mulut ini

Mohon ampun atas segala bentuk kelalaian hati ini ya Rabb
Mohon ampuni diri ini, yang sejatinya tahu tapi tak pernah benar-benar memahami, mengerti tapi tak pernah mampu menguasai diri
Mohon ampuni diri ini, yang begitu sering lalai mensyukuri kehidupan yang sebentar ini :""

Mafi Qalbi Ghairullah.. Mafi Qalbi Ghairullah..
Perkenankan ya Allah, jadikanlah harapanku, tempat bergantungku hanya kepada Engkau.. bukan kepada yang lain  yaa Nurul Qalbi.. :"


"Wahai hamba-hambaKu yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri!
Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.
Sesungguhnya Allah Maha Mengampuni dosa-dosa semuanya.
Sungguh, Dialah yang Maha Pengampun, Maha Penyayang."
(QS. Az-Zumar:53)


Penuhi jiwa ini dengan satu rindu
Rindu untuk mendapatkan rahmatMu
Meski tak layak ku harap debu cintaMu
Meski begitu hina ku bersimpuh...

Kamis, 24 April 2014

Kemelut

Mungkin ada yang salah, ya Rabb.. yang entah apa aku belum tahu..
Mungkin ada yang butuh diperbaiki, ya Rabb.. Aku mohon tunjukkan kepadaku..
Mungkin aku belum menyerahkan sepenuh hatiku, ya Rabb.. walau aku merasa sudah, namun masih dan pasti ada yang salah..
Aku tak paham ya Rabb bagaimana harus berbuat.. Aku tak tahu ya Rabb bagaimana harus melangkah
Aku sudah lupa ya Rabb bagaimana kelegaan ketika sudah bisa melampaui semuanya sebab memang nyatanya aku tak pernah lagi..
Aku malu ya Rabb, malu kepada Engkau, kepada ayah ibuku, kepada diriku sendiri..
Aku merasa tak pantas ya Rabb, berada di titik ini..
Ampuni aku ya Rabb, sungguh aku tak ingin menjadi hamba yang mengkufuri nikmat yang begitu banyak Engkau beri..
Ampuni aku ya Rabb, hanya saja aku tak bisa sekuat dan setegar itu berdiri..
Ampuni aku ya Rabb, yang bahkan tak kuat menopang badanku sendiri..
Mohon kuatkan iman ini ya Rabb, mohon kuatkan hati ini..
Apapun yang terjadi, aku mohon pastikan aku tetap berada dalam garis edar yang Engkau ridhoi ya Rabb..
Luruskan aku ketika sedang membelok dan ingatkan aku ketika aku sedang lupa diri..
Sungguh hanya Engkau sang Maha Penopang dan hanya Engkau sebaik-baik pemberi..
Sungguh hanya Engkau sebaik-baik tempatku kembali, sungguh hanya Engkau yang mampu mengetahui segala kecamuk dalam hati..

Setelah sekian lama aku berada di sini, mungkinkah aku masih belum bisa mencintai duniaku yang ini, ya Rabb?

Kantin alone, 
17.17 WIB, 24 April 2014

Kamis, 27 Maret 2014

Kamu, Maha(siswa) Anti Organisasi?

Unyil: "Mei, Srok, aku bingung niih mau pilih organisasi yang mana. Ada jurnalistik, pecinta alam, kerohanian, teater, olahraga, paduan suara, KIR, aku kan suka semuanyaa.."
Usrok: "Apaaa?? Kamu mau mengikuti semuanya Nyil?? bagaimana nanti kamu mengatur waktumu? Belum lagi kamu kan harus belajar Nyiill"
Unyil: "Ya nggak semuanya jugaaaa, kelees ==" bisa gila aku nanti. Badanku kan cuma ada satu. Masa iya mau kubagi rata begitu. Aku kan bilang kalo aku bingung pilih yang mana, bukan berarti mau dipilih semuanya juga"
Meilani: "Hahaha Nyil Nyil, kamu bingung mau pilih organisasi yang mana, sedangkan aku malah berniat buat nggak jadi (maha)siswa organisasi soalnya aku mau fokuus sama belajarku demi masa depanku"

Naah, ada yang pernah mengalami percakapan seperti itu kah? Entah pada saat itu kamu sedang ada di posisi Unyil, Usrok, ataupun Meilani. Pernah pernah? Aku pribadi sih pernah jadi Unyil dan Usrok hahaa

Kenapa kok kukasih judul (maha)siswa? Ya maksudku, karena organisasi itu sudah bisa kita mulai sejak kita masih jadi siswa, kalau kita mau. Nggak harus waktu udah jadi mahasiswa baru nyemplung di organisasi. Kalo aku dulu memulai karier dalam berorganisasi (halah) sejak aku duduk di bangku SMA hingga kuliah sekarang Alhamdulillah. Memaang, memang awalnya bingung memilih sebab banyak pilihan organisasi yang tersedia. Rasanya bener-bener kepengen dimasuki dan diikuti semua kegiatannya. Tapi kelak setelah kamu timbang-timbang pasti ada satu atau dua yang kamu prioritaskan dan akhirnya kamu masuk deeh di organisasi itu.

Galauku waktu mau ikut organisasi itu tuh semacam ini, "Aku kepengen banget ikut organisasi. Kepengen ikut semua organisasi malah. Tapi nanti gimana ya, caranya aku mengatur jadwalku? Aku kan juga harus mempertanggung jawabkan studiku kepada orang tuaku"

Ya semacam itulah, tapi pemikiran seperti itu bukan berarti akhirnya aku memutuskan untuk nggak ikut organisasi. Sama sekali tidak. Tapi di awal karierku berorganisasi, akhirnya aku hanya fokus di satu organisasi kerohanian di SMAku. Awalnya dua organisasi sih, sama Dewan Ambalan (pramuka) tapi akhirnya aku mrothol (keluar) hehehe karena aku ngerasa nggak sreg dan nggak nyaman aja, dan karena aku memasukinya bukan sebab hati nuraniku sendiri melainkan karena ajakan dari seorang teman.

Berorganisasi bakalan bikin kamu nggak bisa ngatur waktu? Bikin kamu nggak punya waktu buat belajar? Bikin kamu kehilangan masa remaja atau waktu bermainmu? Jawabannya adalah fifty fifty. Lho kok fifty fifty? Iyalah, itu sih tergantung kamunya jadi model anak organisasi yang kayak gimana. Kalo kamu terlalu getol dan cinta mati sama organisasimu sampe mau melakukan segala hal, jelas itu berarti kamu sudah mengesampingkan sekolah atau kuliahmu. Tapi sesungguhnya, yakinlah bahwa berorganisasi itu seyogyanya membuat kita semakin mahir dalam mengatur waktu. Iya, secara kamu sudah ada jadwal rapat ini dan itu misalnya, belum lagi kalo lebih dari satu organisasi yang kamu ikuti, ya seharusnya otomatis kamu sudah bisa mengatur jadwalmu, kapan kamu harus ngerjain tugas, kapan kamu harus istirahat, jadi waktu rapat kamu nggak kepikiran sama tugasmu yang belum selesai dan bisa fokus mengikuti rapat. Banyak lho yang bisa kita dapat dari berorganisasi. Soft skill, berinteraksi dengan banyak orang, memahami karakter orang, membaca situasi dan mengatur ego pribadi, daan lain-lain. Kelak juga kan kita harus hidup di tengah masyarakat dan hellooooo, plis, kalo kita cuma jadi (maha)siswa 'kupu-kupu' (kuliah-pulang-kuliah-pulang, oh kalo masih sekolah berarti istilahnya 'sepu-sepu'??), dan kita jarang sekali berinteraksi dengan banyak orang atau hanya berinteraksi dengan orang yang itu-itu saja, maka jangan heran kalo nanti kamu bakalan kagok cuman buat ngomong ke tetanggamu, buat minta mangga untuk istrimu yang sedang hamil muda (eh kok ngelanturnya ke situ? hahahaa tapi bisa juga kan), buat minta hadir ke acara syukuran rumah barumu, buat minta tolong untuk mengantarkan anak atau suamimu yang sedang sakit sedangkan kendaraanmu nggak sanggup membawa mereka. Jangan kaget kalo nanti kamu nggak 'mampu' bilang ke temen kerjamu kalo kamu mau nitip makan siang ketika mereka keluar sebab kamu harus lembur kerja, atau bahkaaann jangan-jangan kamu nggak mampu mengungkapkan perasaan terpendammu kepada lawan jenis yang memikat hatimu hingga akhirnya mereka dipinang sama orang lain dan tinggallah kamu sendiri menyesal seumur hidupmu.

Wkwkwkwk terlalu berlebihan ya perumpamaannya? Tapi ya begitulah, kita ini makhluk sosial yang nggak bisa hidup sendiri, walau sebaiknya tetap selalu berdiri di atas kaki sendiri (paham maksudnya?? Jangan banyak menggantungkan diri sama orang lain!). Dengan banyak berinteraksi sama orang, kamu juga paham mana situasi yang urgent atau tidak. Kamu bisa paham gimana harus bersikap ketika kamu sedang merasa senang sedangkan teman baikmu baru saja kehilangan hal terindah dalam hidupnya. Apalagi untuk kamu yang punya calon profesi yang menuntutmu berinteraksi dengan banyak orang. Jangan harap pasienmu bisa sembuh dengan obat-obat mujarab itu kalo kamu yang mereka temui, kamu yang mereka harapkan senyumannya aja malah merengut dan nggak tau bagaimana cara untuk tersenyum ataupun menghibur di hadapan mereka. Dan sebagainya dan sebagainya..

Nggak cuma pandai berkomunikasi sih, tapi juga banyak skill dan feel lain yang bisa kamu dapat di organisasi, yang enggak biisa kamu dapat di sekolah atau kuliah. Kalo kerohanian ya kamu bisa lebih paham ilmu agama, kalo pecinta alam ya kamu ngerti banget gimana harus survive atau gimana perasaan bahagia waktu sampai di puncak gunung, dan lain-lainnya. Selain itu juga, kamu belajar untuk bertanggung jawab. Ya, bertanggung jawab terhadap amanah-amanah yang kamu emban. Entah itu amanah dari organisasi,  ataupun amanah dari orang tua untuk tetap fokus dalam belajar. Namanya juga organisasi, kita juga belajar mengorganir, mengatur dan menjadi bagian dari segala sesuatu. Bisa suatu saat nanti kamu jadi ketua, bendahara, sekretaris, koordinator acara, dan banyak lagi lah yang lainnya. Dan diluar semua itu, percayalah sehectic-hecticnya, serempong, dan seriweuh-riweuhnya organisasimu itu, kelak suatu saat nanti ketika kamu sudah lulus dan menuju jenjang kehidupan yang lebih tinggi lagi tingkat pertanggung jawabannya, kamu pasti bakalan kangen sama kerempongan-kerempongan itu. Sama kerja keras dan persaudaraan yang sudah terjalin erat. Sama acara-acara yang sempat menyita waktu dan bikin kamu berkorban untuk itu. Sama sudut-sudut ruangan dan setiap ruas jaln yang punya arti tersendiri buat kamu. Aaah semuanya itu pasti akan jadi kenangan yang kelak akan dirindukan dan menjadi cerita di masa depan..

Sabtu, 22 Maret 2014

Pilih Jomblo atau LDR??

"Mbak Izza Mbak, kalo ada pilihan jomblo atau LDR, mbak bakalan pilih yang mana?"

Ahahahaaaa itu tadi pertanyaan dari seorang adik tingkat laki-laki kepadaku (panggil saja si A), saat menjaga meja registrasi di lomba debat bahasa Inggris tadi. Lebih tepatnya, dia mencari 'bolo' (teman) untuk mendukung pendapatnya, sebab sebelumnya dia telah mengadakan sebuah perdebatan dengan teman wanitanya (panggil saja si B), yang jelas-jelas mereka berdebat di sebelahku tapi aku emang nggak terlalu memperhatikan sih tadi, dan tiba-tiba aku ditodong dengan pernyataan seperti itu. Huahahahahaa langsung saja kujawab "JOMBLO!!" Emm single sih lebih tepatnya bwakakakakak

"Lhoo kaaann Mbak Izza aja pilih JOMBLO! &^&*&&E*&^%$$$##@)(&#$#%@ (entah mereka melanjutkan dengan perdebatan macam apa lagi, yang jelas satu statement dari si B yang aku dengar tadi gini.....)
"Halaah itukan alasannya orang jomblo ajaa" (Maksudnya dia bilang ke si A)

FYI: si B ini memang termasuk golongan pasangan yang LDR sedangkan si A masih jomblohh

Lalu aku mencoba menengahi "Lhoo, Dek, bukan masalah jomblo atau singlenya, tapi memang masih belum saatnya Dek"

Sebetulnya aku mau melanjutkan lagi kata-kataku, tapi aku keburu males hahahaa :p

Maksudku, yang mau aku katakan tadi, bukan hanya 'sekedar' jomblo atau single, entah menurut orang banyak lebih bermartabat single daripada jomblo, yang jelas mereka sama-sama sendirian kaan.. Tapi juga memang pacaran itu enggak boleh, walaupun konteksnya LDR, berjauh-jauhan. Secara pacaran itu nggak ada di Al-Qur'an dan secara jugaaa walaupun namanya LONG DISTANCE RELATIONSHIP, tetep aja ada kata-kata yang belum seharusnya diucapkan, ada pertemuan-pertemuan yang pasti dinantikan dan pasti dalam pertemuan itu akan ada hal-hal lain yang terjadi, yaaa walaupun bilangnya hanya 'sekedar' pertemuan.
Ah pokoe kalo ngomongin itu nggak bakalan ada habisnya, akan ada statement A dan akan selalu ada alasan B untuk membantah statement A tersebut hahahaa

Untuk kamu, yang belum pernah pacaran (dan semoga bukan pacaran yang jadi jalan pilihanmu, tapi MENIKAH), kamu kepengen ngerasain pacaran? Kamu nyesel nggak pernah pacaran? Kalo menurutku, nggakpapa kok kalo mau ngerasain yang namanya pacaran, tapi entar ya setelah menikah. Hahaha yaa, pacaran setelah menikah. Mungkin terkesan menggurui, mungkin terkesan sok mengetahui padahal aku pun belum pernah merasakan dan mengalami. Ah tapi memang itulah jalan yang benar. Sudahlah, mari kita ikuti saja jalan yang benar, yang Allah jelas-jelas meridhoinya. Janganlah kita mendekati zina dan sesungguhnya pacaran itu pintu dari perzinahan..