Selamat Datang

Monggoo dipun aturiiii :))

Kamis, 27 Maret 2014

Kamu, Maha(siswa) Anti Organisasi?

Unyil: "Mei, Srok, aku bingung niih mau pilih organisasi yang mana. Ada jurnalistik, pecinta alam, kerohanian, teater, olahraga, paduan suara, KIR, aku kan suka semuanyaa.."
Usrok: "Apaaa?? Kamu mau mengikuti semuanya Nyil?? bagaimana nanti kamu mengatur waktumu? Belum lagi kamu kan harus belajar Nyiill"
Unyil: "Ya nggak semuanya jugaaaa, kelees ==" bisa gila aku nanti. Badanku kan cuma ada satu. Masa iya mau kubagi rata begitu. Aku kan bilang kalo aku bingung pilih yang mana, bukan berarti mau dipilih semuanya juga"
Meilani: "Hahaha Nyil Nyil, kamu bingung mau pilih organisasi yang mana, sedangkan aku malah berniat buat nggak jadi (maha)siswa organisasi soalnya aku mau fokuus sama belajarku demi masa depanku"

Naah, ada yang pernah mengalami percakapan seperti itu kah? Entah pada saat itu kamu sedang ada di posisi Unyil, Usrok, ataupun Meilani. Pernah pernah? Aku pribadi sih pernah jadi Unyil dan Usrok hahaa

Kenapa kok kukasih judul (maha)siswa? Ya maksudku, karena organisasi itu sudah bisa kita mulai sejak kita masih jadi siswa, kalau kita mau. Nggak harus waktu udah jadi mahasiswa baru nyemplung di organisasi. Kalo aku dulu memulai karier dalam berorganisasi (halah) sejak aku duduk di bangku SMA hingga kuliah sekarang Alhamdulillah. Memaang, memang awalnya bingung memilih sebab banyak pilihan organisasi yang tersedia. Rasanya bener-bener kepengen dimasuki dan diikuti semua kegiatannya. Tapi kelak setelah kamu timbang-timbang pasti ada satu atau dua yang kamu prioritaskan dan akhirnya kamu masuk deeh di organisasi itu.

Galauku waktu mau ikut organisasi itu tuh semacam ini, "Aku kepengen banget ikut organisasi. Kepengen ikut semua organisasi malah. Tapi nanti gimana ya, caranya aku mengatur jadwalku? Aku kan juga harus mempertanggung jawabkan studiku kepada orang tuaku"

Ya semacam itulah, tapi pemikiran seperti itu bukan berarti akhirnya aku memutuskan untuk nggak ikut organisasi. Sama sekali tidak. Tapi di awal karierku berorganisasi, akhirnya aku hanya fokus di satu organisasi kerohanian di SMAku. Awalnya dua organisasi sih, sama Dewan Ambalan (pramuka) tapi akhirnya aku mrothol (keluar) hehehe karena aku ngerasa nggak sreg dan nggak nyaman aja, dan karena aku memasukinya bukan sebab hati nuraniku sendiri melainkan karena ajakan dari seorang teman.

Berorganisasi bakalan bikin kamu nggak bisa ngatur waktu? Bikin kamu nggak punya waktu buat belajar? Bikin kamu kehilangan masa remaja atau waktu bermainmu? Jawabannya adalah fifty fifty. Lho kok fifty fifty? Iyalah, itu sih tergantung kamunya jadi model anak organisasi yang kayak gimana. Kalo kamu terlalu getol dan cinta mati sama organisasimu sampe mau melakukan segala hal, jelas itu berarti kamu sudah mengesampingkan sekolah atau kuliahmu. Tapi sesungguhnya, yakinlah bahwa berorganisasi itu seyogyanya membuat kita semakin mahir dalam mengatur waktu. Iya, secara kamu sudah ada jadwal rapat ini dan itu misalnya, belum lagi kalo lebih dari satu organisasi yang kamu ikuti, ya seharusnya otomatis kamu sudah bisa mengatur jadwalmu, kapan kamu harus ngerjain tugas, kapan kamu harus istirahat, jadi waktu rapat kamu nggak kepikiran sama tugasmu yang belum selesai dan bisa fokus mengikuti rapat. Banyak lho yang bisa kita dapat dari berorganisasi. Soft skill, berinteraksi dengan banyak orang, memahami karakter orang, membaca situasi dan mengatur ego pribadi, daan lain-lain. Kelak juga kan kita harus hidup di tengah masyarakat dan hellooooo, plis, kalo kita cuma jadi (maha)siswa 'kupu-kupu' (kuliah-pulang-kuliah-pulang, oh kalo masih sekolah berarti istilahnya 'sepu-sepu'??), dan kita jarang sekali berinteraksi dengan banyak orang atau hanya berinteraksi dengan orang yang itu-itu saja, maka jangan heran kalo nanti kamu bakalan kagok cuman buat ngomong ke tetanggamu, buat minta mangga untuk istrimu yang sedang hamil muda (eh kok ngelanturnya ke situ? hahahaa tapi bisa juga kan), buat minta hadir ke acara syukuran rumah barumu, buat minta tolong untuk mengantarkan anak atau suamimu yang sedang sakit sedangkan kendaraanmu nggak sanggup membawa mereka. Jangan kaget kalo nanti kamu nggak 'mampu' bilang ke temen kerjamu kalo kamu mau nitip makan siang ketika mereka keluar sebab kamu harus lembur kerja, atau bahkaaann jangan-jangan kamu nggak mampu mengungkapkan perasaan terpendammu kepada lawan jenis yang memikat hatimu hingga akhirnya mereka dipinang sama orang lain dan tinggallah kamu sendiri menyesal seumur hidupmu.

Wkwkwkwk terlalu berlebihan ya perumpamaannya? Tapi ya begitulah, kita ini makhluk sosial yang nggak bisa hidup sendiri, walau sebaiknya tetap selalu berdiri di atas kaki sendiri (paham maksudnya?? Jangan banyak menggantungkan diri sama orang lain!). Dengan banyak berinteraksi sama orang, kamu juga paham mana situasi yang urgent atau tidak. Kamu bisa paham gimana harus bersikap ketika kamu sedang merasa senang sedangkan teman baikmu baru saja kehilangan hal terindah dalam hidupnya. Apalagi untuk kamu yang punya calon profesi yang menuntutmu berinteraksi dengan banyak orang. Jangan harap pasienmu bisa sembuh dengan obat-obat mujarab itu kalo kamu yang mereka temui, kamu yang mereka harapkan senyumannya aja malah merengut dan nggak tau bagaimana cara untuk tersenyum ataupun menghibur di hadapan mereka. Dan sebagainya dan sebagainya..

Nggak cuma pandai berkomunikasi sih, tapi juga banyak skill dan feel lain yang bisa kamu dapat di organisasi, yang enggak biisa kamu dapat di sekolah atau kuliah. Kalo kerohanian ya kamu bisa lebih paham ilmu agama, kalo pecinta alam ya kamu ngerti banget gimana harus survive atau gimana perasaan bahagia waktu sampai di puncak gunung, dan lain-lainnya. Selain itu juga, kamu belajar untuk bertanggung jawab. Ya, bertanggung jawab terhadap amanah-amanah yang kamu emban. Entah itu amanah dari organisasi,  ataupun amanah dari orang tua untuk tetap fokus dalam belajar. Namanya juga organisasi, kita juga belajar mengorganir, mengatur dan menjadi bagian dari segala sesuatu. Bisa suatu saat nanti kamu jadi ketua, bendahara, sekretaris, koordinator acara, dan banyak lagi lah yang lainnya. Dan diluar semua itu, percayalah sehectic-hecticnya, serempong, dan seriweuh-riweuhnya organisasimu itu, kelak suatu saat nanti ketika kamu sudah lulus dan menuju jenjang kehidupan yang lebih tinggi lagi tingkat pertanggung jawabannya, kamu pasti bakalan kangen sama kerempongan-kerempongan itu. Sama kerja keras dan persaudaraan yang sudah terjalin erat. Sama acara-acara yang sempat menyita waktu dan bikin kamu berkorban untuk itu. Sama sudut-sudut ruangan dan setiap ruas jaln yang punya arti tersendiri buat kamu. Aaah semuanya itu pasti akan jadi kenangan yang kelak akan dirindukan dan menjadi cerita di masa depan..

Sabtu, 22 Maret 2014

Pilih Jomblo atau LDR??

"Mbak Izza Mbak, kalo ada pilihan jomblo atau LDR, mbak bakalan pilih yang mana?"

Ahahahaaaa itu tadi pertanyaan dari seorang adik tingkat laki-laki kepadaku (panggil saja si A), saat menjaga meja registrasi di lomba debat bahasa Inggris tadi. Lebih tepatnya, dia mencari 'bolo' (teman) untuk mendukung pendapatnya, sebab sebelumnya dia telah mengadakan sebuah perdebatan dengan teman wanitanya (panggil saja si B), yang jelas-jelas mereka berdebat di sebelahku tapi aku emang nggak terlalu memperhatikan sih tadi, dan tiba-tiba aku ditodong dengan pernyataan seperti itu. Huahahahahaa langsung saja kujawab "JOMBLO!!" Emm single sih lebih tepatnya bwakakakakak

"Lhoo kaaann Mbak Izza aja pilih JOMBLO! &^&*&&E*&^%$$$##@)(&#$#%@ (entah mereka melanjutkan dengan perdebatan macam apa lagi, yang jelas satu statement dari si B yang aku dengar tadi gini.....)
"Halaah itukan alasannya orang jomblo ajaa" (Maksudnya dia bilang ke si A)

FYI: si B ini memang termasuk golongan pasangan yang LDR sedangkan si A masih jomblohh

Lalu aku mencoba menengahi "Lhoo, Dek, bukan masalah jomblo atau singlenya, tapi memang masih belum saatnya Dek"

Sebetulnya aku mau melanjutkan lagi kata-kataku, tapi aku keburu males hahahaa :p

Maksudku, yang mau aku katakan tadi, bukan hanya 'sekedar' jomblo atau single, entah menurut orang banyak lebih bermartabat single daripada jomblo, yang jelas mereka sama-sama sendirian kaan.. Tapi juga memang pacaran itu enggak boleh, walaupun konteksnya LDR, berjauh-jauhan. Secara pacaran itu nggak ada di Al-Qur'an dan secara jugaaa walaupun namanya LONG DISTANCE RELATIONSHIP, tetep aja ada kata-kata yang belum seharusnya diucapkan, ada pertemuan-pertemuan yang pasti dinantikan dan pasti dalam pertemuan itu akan ada hal-hal lain yang terjadi, yaaa walaupun bilangnya hanya 'sekedar' pertemuan.
Ah pokoe kalo ngomongin itu nggak bakalan ada habisnya, akan ada statement A dan akan selalu ada alasan B untuk membantah statement A tersebut hahahaa

Untuk kamu, yang belum pernah pacaran (dan semoga bukan pacaran yang jadi jalan pilihanmu, tapi MENIKAH), kamu kepengen ngerasain pacaran? Kamu nyesel nggak pernah pacaran? Kalo menurutku, nggakpapa kok kalo mau ngerasain yang namanya pacaran, tapi entar ya setelah menikah. Hahaha yaa, pacaran setelah menikah. Mungkin terkesan menggurui, mungkin terkesan sok mengetahui padahal aku pun belum pernah merasakan dan mengalami. Ah tapi memang itulah jalan yang benar. Sudahlah, mari kita ikuti saja jalan yang benar, yang Allah jelas-jelas meridhoinya. Janganlah kita mendekati zina dan sesungguhnya pacaran itu pintu dari perzinahan..