Selamat Datang

Monggoo dipun aturiiii :))

Kamis, 19 Desember 2013

Kala Emosi Menguasai Diri



Wuedeeww judulnya sok banget gitu rasanya, padahal nggak segitunya juga isinya hehee..
Hmmm teman-teman sekalian, pernah tidak kamu mengalami suatu keadaan seperti ini:

Suatu ketika kamu dipanggil oleh ayahmu. Niatnya baik, kamu disuruh makan malam. Tapi sayangnya kamu yang sedang menonton tv nggak kedengeran kalo kamu lagi dipanggil *walaupun manggilnya memang baru satu kali sebenernya* akhirnya ibumu ikut memanggilmu tapi sudah dalam keadaan emosi karena kamu nggak datang-datang waktu dipanggil. Karena ibumu sudah emosi, ayahmu yang pada saat itu (sebenarnya) nggak dalam keadaan emosi, malah ikut kepancing emosinya. Akhirnya nada mereka semakin meninggi dan keluarlah perintah buat mematikan televisimu. Padahal nih ya, sebenernya sebelum kamu nonton tv kamu udah bilang kalo kamu masih kenyang. Maka dari itu kamu nggak ikut makan pada saat itu. Dan pada saat seperti ini, orang tua langsung ngomel “Sekarang kalo dipanggil sering nggak nggathekno (memperhatikan).” Padahal lho kamu memang nggak denger dan manggil pun juga baru sekali. Padahal juga, sebelum itu kamu udah disuruh-suruh buat pergi ke warung beli bahan masakan dan setelah kamu kembali, eh ternyata ada yang kelupaan sampe kamu harus bolak-balik warung dua kali. Hmm tapi kalo keadaan sudah kayak gini? Apa boleh buat. Rasanya benar-benar karena nila setitik, rusaklah susu sebelanga.

Ya, tepat sekali. Aku baru saja mengalami hal itu. Lebih tepatnya, posisiku sedang berada bersama orang tuaku saat itu, makanya aku bisa cerita sedetail ini dan yang dipanggil untuk makan itu adalah adekku. Aku bisa bayangin banget gimana perasaan adekku. Entahlah mungkin aku salah, tapi kalo aku disuruh memilih, aku akan pilih ada di pihak adekku. Aku aja yang cuma ‘jadi penonton’, ikut sebel juga rasanya. Kenapa harus pake emosi segala. Yah.. Mungkin keadaan orang tuaku juga lagi capek. Mungkin juga volume tvnya terlalu besar sampe nggak denger kalo lagi dipanggil, mungkin… Yah mungkin ini mungkin itu mungkin juga masih banyak lagi kemungkinan-kemungkinan yang lainnya.

Mendadak aku ingat, dulu abiku pernah bilang kayak gini, “Dalam hubungan suami istri ya Nduk, ketika seorang suami bersalah, bagaimanapun dia tetep pengen dihormati sama  istrinya. Dan kalau dalam hubungan antara orang tua dan anak, walaupun orang tua sedang dalam posisi yang salah, tapi ya tetap mereka maunya dihormati sama anak. Memang mungkin kesannya seperti karepe dhewe (semaunya sendiri). Tapi ya itu kodrat”. Ketika aku mendengar statement beliau, yaaa yang terpikir di benakku ya memang kok ya semaunya sendiri. Tapi kembali lagi, itulah kodrat. Ya walaupun mungkin nggak semuanya juga seperti itu. Tapi walau bagaimanapun, semuanya harus sama-sama introspeksi diri. Bukan malah menjudge diri sendiri yang paling benar dan menutup mata dan telinga untuk melihat dan mendengarkan orang lain. Padahal bisa jadi malah orang lain yang lebih benar daripada kita.

#latepost, harusnya dua malam yang lalu :)