Selamat Datang

Monggoo dipun aturiiii :))

Rabu, 21 Mei 2014

Berbicara tentang Jodoh

Sangat paham sekali, semakin usia bertambah dewasa seperti ini, bukan hal yang bisa dielak kalo akan ada satu tambahan lagi pemikiran dalam otak ini yaitu masalah jodoh. Wkwkwk yaa betuul, untuk anak gadis yang sudah berusia 20 tahunan seperti aku ini, walaupun lah 20 tahunnya masih already, tapi yang begitu itu sudah masuk list buat dipikirkan. Entahlah, tiba-tiba dia masuk aja ke pikiran tanpa pake permisi. Ya, mungkin sudah waktunya untuk memikirkan masa depan lah ya hahahaa. Dan bukan hanya dipikirkan oleh diri sendiri, entah mengapa sepertinya lingkungan pun juga punya pemikiran yang sama. Maksudnya di sini adalah, emm apayaa.. Semacam lingkungan itu merespon apa yang jadi pikiran di otak ini. Jadi bukan hanya sekali dua kali aku pernah didekati atau ditawari untuk berkenalan sama laki-laki. Yaa semacam itu maksudnya. Dan memang itu dari pihak laki-lakinya yang memulai, entah itu lewat orang lain maupun dirinya sendiri. Ya secara juga, memang takdir berkata bahwa laki-laki lah yang bisa menginisiasi. Sudah kodrat sih menurutku hehehee. Termasuk yang terjadi pagi ini di kantin seusai kuliah tadi. Yang bikin aku tergerak buat menuliskan kisah ini :p

Ibu kantin: "Lhooo mbak'e iniii aduuh sudah lama ndak nyambangi ibuuk. Wes lama ndak beli kue."
Me: "Muehehehee iya buuk, maaf. Kapan hari aku kesini ibuke udah ndak ada ee.."
*memang kepada ibu kantin yang satu ini, aku begitu dekat sampe heboh-heboh sendiri kalo lagi ketemu. Dan biasanya dalam setiap pertemuan, bisa ditemukan adanya unsur pemaksaan dari si ibuk biar aku beli kue jualannya hahahaa piss buk :p*
*Jadi ceritanya lagi pilih-pilih kue nih, tiba-tiba si ibuk nyeletuk*
Ibu kantin: "E, ada yang mau kenalan lhoo, anak teknik. Gimana? Mau?" *sambil mengerjap-ngerjapkan mata --"
Me: "Hah? Sungguan Buk? Lha emang tau aku ta? Kok bisa tau aku? Dan kenapa harus aku??"
Ibu: "Iyaaa, jadi dulu kan dia pernah makan di kantin sini, terus ngeliat mbak'e dan dia minta ibuk buat ngenalin, tapi ibuk mau bilang ke mbak'e duluu. Kan nggak enak kalo ibuk langsung ngenalin dan ternyata mbak'e sebetulnya ndak setuju. Terus kan kalo malem, ibuk jualane di alun-alun dan sering ketemu dia. Piye piye? Mau yaa?" *duuuh ibuknya inii.. tau banget deh kalo aku nggak bisa an buat nolak, tapi itu kalo ibuk lagi nawarin kue, buk. Bukan masalah yang beginian --"
Me: *bingung cari kata-kata penolakan* "Emm yaa duh gimana ya Buk. Aku ini udah punya, eh ndak juga sih, tapi anu....."
Ibuk: "Lhooo? Udah punya to? Belum kaaan? Tetanggaan gini lhooo" *Maksudnya fakultasku dan fakultas teknik itu emang deketan*
Me: "Iya buk tapi anuu.. Jadi gini, aku kan ndak mau pacaran to.. Aku lagi menjaga hati istilahe sekarang Buk. Dan emang aku ndak sreg aja kalo digitu-gituin"
Ibuk: "Lhoo, jadi nggak boleh nih ya? Ndak mau ya? Ibuk minta nomer hpne mbak'e wees boleh boleh?" *harusnya aku tinggal jawab 'iya' aja, pasti udah beres itu urusan. Tapi dasar emang aku nggak tegaan atau aku memang sudah ndak waras, rasanya kalo aku bilang 'iya' gitu aku ndak sampai hati, semacam kecewa banget gitu ibuknya apalagi mukanya tadi dimelas-melasin aaarghh -_- Padahal sebetulnya aku memang nggak suka digitu-gituin. Allah tolong akuuuuu x.x*

Dan akhirnya doaku diijabah. Memang doa orang teraniaya itu langsung dikabulkan ya huahahahaa --"
Jeng jeng jeeng tiba-tiba datanglah peri penolongku dan dia ikut andil berbicara,

Ibu Peri: "Wedeee, emang dia angkatan tahun berapa Buk?"
Ibu kantin: "2010, mbak'ee.."
Ibu Peri: "Ooo 2010 to. Jadi gini Buk, ya gimana ya.. Fida itu single but not available *sumpah aku ngakak denger dia ngomong begitu. maksudnya lhooo? hahahaa --"* dan daripada nanti ujung-ujungnya jadi PHP, kan kasian di Fidanya dan di anaknya juga. Apalagi kalo sampe minta nomer hp pasti ntar sms-sms terus kasihan Fidanya nanti keganggu.."
*Ooohh ibu Periku entah dari langit ke berapa engkau jatuh, aku sungguh mencintaimuuuu <3*
Ibu kantin: "Oooh iya ya bener juga,, daripada PHP hehehee"
Me: "Naah ya gitu buk, kan kasihan anaknya juga. Hehehee maaf ya buk yaa.."
Ibu kantin: "Iya iya mbak'e, makasih lo yaa"

Dan akhirnyaa aku keluar dari kantin dengan kerudung berkibar *biasanya kan rambut yang berkibar, kalo aku mah cukup kerudung aja :p*
dan aku peluuuk si Ibu Peri hahahaaa Alhamdulillah u.u

Dulu pun aku pernah ditawari temenku, 
"Fid aku punya temen nih, anak FK UNS 2011. Anaknya pengen dikenalin ke temenku yang kriterianya berhijab, baik, putih, dan dia suka yang pipinya chubby. Ya aku mikirnya langsung kamu. Soale kan emang kamu paling baik di antara kita dan kriterianya itu kamu banget."
Huahahahaaa pret banget deeh --" Saat itu dia juga memperlihatkan foto temannya itu kepadaku. Yaa langsung kutolak walaupun harus cari alasan dulu. Tapi alasannya memang karena aku nggak suka digitu-gitukan. Dicomblangkan lah istilahnya, apalagi jarak jauh dan jelas-jelas belum pernah kenal sebelumnya. Entah yaa, aku merasa dia (pihak laki-laki) nggak ngerti aja gimana sifatku yang sebenernya (jangankan mereka, temen-temenku yang sehari-hari sama aku aja belum tentu ngerti sifatku ini kayak gimana). Atau at least dia pernah tahu lah bagaimana keseharianku. Lha kalo ini, gimana mau tau lhawong ketemu aja nggak pernah.

Memang sih, mungkin ada yang beranggapan bahwa alasanku itu cuma alasan klise. Mungkin ada yang beranggapan, 'kalo mau mempelajari sifat masing-masing kan bisa nanti sambil jalan. Ya sekarang kenalan dulu ndak papa lah'. Tapi kembali lagi, itu kan hak masing-masing orang buat memilih bagaimana, memilih apa yang menurutnya baik untuk kehidupannya. Memilih apa yang sekiranya sreg di hatinya. Lha lagian kan aku juga nggak pernah tau keseharian mereka-mereka itu. Dan aku kalo udah memilih satu bukan berarti aku berniat buat main-main lalu diputusin gitu aja ketika ternyata nggak sreg. Hahahaa ya, pilihan fase 'penjajakan'ku bukan yang tipe-tipe semacam itu. Aku kan antimainstream :p Dan kepengennya sebisa mungkin menjauhi hal-hal yang semacam itu.

Memang takdir ke depan, kita nggak ada yang tahu. Aku pun begitu. Mungkin saja ternyata kelak aku malah berjodoh dengan salah satu dari mereka itu yang notabene di awal-awal sudah aku tolak dengan halus perkenalannya. Ya gimana ya, jodoh kan rahasia Allah dan nggak ada yang tahu. Tapi sungguh bukan maksud hati buat jadi sok jual mahal atau sebagainya, tapi dari lubuk hati yang paling dalam sih memang aku nggak sreg untuk cara-cara yang seperti itu. Lha gimana mau menjalani kalo dari awal aja hatiku sudah ndak di situ. Hahahaa ya, semacam itu lah. Memang hidup adalah pilihan. Sekali lagi hidup itu pilihan, ia menuntun kita buat jadi pemilih yang baik dan penuh kebijaksanaan. Semoga kelak yang terbaiklah yang didapatkan :D
Aamiin Allahumma Amiiinn...

~Tulang rusuk tak akan pernah tertukar #eaaaa~

Jumat, 16 Mei 2014

Yaa Nurul Qalbi

Kepada yang benama hati, ya Rabb..
Entah mengapa ada yang kepingannya terasa kurang.
Atau mungkin ada yang sepertinya sedang dilanda gersang, kering kerontang.

Kepada yang bernama iman, ya Rabb..
Mungkin selama ini sholat dan mengaji memang dilakukan.
Hanya saja tak diresapi dan dihayati serta diamalkan melalui perbuatan.
Sungguh, betapa menyedihkan, ya Rabb..

Sejatinya diri ini tau ya Rabb, bahwa waktu di dunia sudah berkurang sekian banyaknya.
Sejatinya diri ini mengerti ya Rabb, bahwa masa muda bukan jaminan kelak akan menggapai masa tua.
Sejatinya diri ini terlalu sering lupa ya Rabb, bahwa hidup tidak selesai bahkan setelah mati namun tetap saja melakukan banyak perbuatan dosa.

Bagaimana kelak ketika tiba hari perjumpaan denganMu ya Rabb
Bagaimana kelak ketika hamba berdiri di pengadilanMu ya Rabb
Apa yang akan hamba dengar dari tangan dan kaki ini
Apa yang akan hamba lihat tanpa bisa mengelak mulut ini

Mohon ampun atas segala bentuk kelalaian hati ini ya Rabb
Mohon ampuni diri ini, yang sejatinya tahu tapi tak pernah benar-benar memahami, mengerti tapi tak pernah mampu menguasai diri
Mohon ampuni diri ini, yang begitu sering lalai mensyukuri kehidupan yang sebentar ini :""

Mafi Qalbi Ghairullah.. Mafi Qalbi Ghairullah..
Perkenankan ya Allah, jadikanlah harapanku, tempat bergantungku hanya kepada Engkau.. bukan kepada yang lain  yaa Nurul Qalbi.. :"


"Wahai hamba-hambaKu yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri!
Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.
Sesungguhnya Allah Maha Mengampuni dosa-dosa semuanya.
Sungguh, Dialah yang Maha Pengampun, Maha Penyayang."
(QS. Az-Zumar:53)


Penuhi jiwa ini dengan satu rindu
Rindu untuk mendapatkan rahmatMu
Meski tak layak ku harap debu cintaMu
Meski begitu hina ku bersimpuh...