Selamat Datang

Monggoo dipun aturiiii :))

Minggu, 30 November 2014

My (Real) Me Time: Nikmati Ke-single-anmu!

Pagi ini aku bahagia sekali *Ouups tidaak, tidak hanya pagi ini sih, pagi-pagi kemarin pun aku bahagia kok, Alhamdulillah ya :3. Betapa tidak, baru kali ini aku benar-benar bisa menikmati fasilitas car free day yang sudah disediakan pemerintah :D dan bukan hanya itu, intinya yang jelas aku merasa pagi ini adalah pagi milikku seutuhnya :p

Berawal dari bangun pagi dan solat shubuh, mendadak setelah sholat, aku ingin pergi berolah raga. Biasa laah, sesuatu yang tidak direncanakan itu memang kebanyakan terlaksana, bukan? Dan sebaliknya hahahaa. Akhirnya ijinlah aku ke umik dan abiku. Niatnya lari pagi sih, dan cuma pergi ke perumahan di deket-deket rumah. Tapi akhirnya berubah pikiran setelah ditakut-takutin adekku kalo di perumahan itu katanya banyak cowok-cowok yang suka menggoda *padahal aku sendirian dan nggak ada yang nemenin --" dan semakin mantap untuk berubah pikiran setelah akhirnya melihat seonggok sepeda gunung (sedikit butut) milik adek, yang sebetulnya bannya kempos, tempat duduknya atos, dan remnya ndak mekan --"
Tapi karena mendadak saja aku jatuh cinta padanya, jadilah aku gowesi sepeda itu, sendirian. Sekali lagi, s-e-n-d-i-r-i-a-n   :p

Iya, penekanan kata-kata sendirian itu amatlah perlu. Karena dari sanalah aku menikmati sekali kesendirianku, kesingle-anku. Wkwkwk. Rasanyaaa damaaai sekali hati ini. Pagi-pagi gowes sendiri ke alun-alun. Sampe sana iseng ikut senam gratisan dan lumayaan, menambah pembakaran kalori setelah lumayan gobyos sana gobyos sini. Belum puas dengan kegobyosan itu, berlarilah aku memutari alun-alun tapi cuma dapet 1,5 putaran karena seketika saja aku ingat bahwa aku harus pulang dengan menggowes lagi. Dan bukankah seharusnya aku mempersiapkan tenaga untuk itu? u.u 

Setelah itu, akhirnya aku pulang melewati jalanan dengan persawahan yang hijaaau, pepohonan yang rimbuun, selain itu juga aku menyusuri sungai yang jerniiih *enggak deng boong mah kalo sungainya, wkwkwk. Dan kok ya takdirnya pagi ini tuh mendung, jadi akunya enggak kepanasan :3 setelah sampai di gang depan rumah, rasanya eman mau pulang. Karena matahari pun sepertinya masih enggan menampakkan diri, pun begitu dengan jalanan yang masih lumayan lengang. Akhirnya bukannya membelokkan sepeda menuju arah pulang, tapi malah terus dan mengunjungi perumahan *bukan perumahan yang awalnya aku ingin kunjungi, tapi*. Dan disanaaaa, aku pun melihat pemandangan yang hijau-hijau, bapak tani yang sedang mentraktor sawah, burung gereja beterbangan dan berkicauan dengan indahnya, udara yang sejuk, dan suasana yang mendamaikan, aaaah betapa hidup begitu indah. Maklum juga ya, perumahan dengan rumah besar-besar begitu sih biasanya individual. Jadi aku nggak melihat banyak orang yang di luar rumah. Atau mungkin karena masih pagi? Entah juga sih. Dan gara-gara ngeliat rumah bagus-bagus seperti itu, aku jadi terinspirasi lagi ingin membangun seperti apa rumahku kelak hihii. Ternyata aku senang melihat rumah dengan halamannya yang indah di depan. Kalau dulu di postinganku sebelumnya mengenai kriteria rumah, aku menyebutkan boleh ada halaman depan atau belakang, kali ini aku menginginkan dua-duanya :3
Entah kenapa, seneng aja rasanya melihat rumah bertaman. Biarlah halaman depan kelak akan aku tanami pepohonan yang indah-indah, sedangkan yang di halaman belakang atau samping rumah, (semoga) setidaknya bisa cukup untuk menjemur pakaian, untuk tempat bermain anak-anakku kelak, serta untuk aku tanami TOGA ataupun palawija :D *aamiin ya Allah, semoga*. Tak perlu pagar yang terlampau tinggi, cukup rumah dengan desain minimalis tapi sederhana, dengan mushola yang berdinding kaca, serta dapur *yang gimana caranya dibikin biar bisa pewe untuk berbagai macam eksperimen wkwk* dan dua-duanya langsung menghadap halaman belakang atau samping rumah. Juga ruang tamu serta ruang keluarga dan dapur yang lega. Aduh, ini masih bisa disebut minimalis, bukan? ._.
Ah, yang jelas, seperti apapun rumahku kelak bersama suami dan anak-anakku, aku menginginkan rumah itu adalah rumah yang mendamaikan, yang menjadi tempat paling dirindukan untuk pulang ketika segala macam hal di luar sana sudah begitu menyesakkan. Rumah yang ketika dimasuki akan membuat hati menjadi tenteram sebab dibacakan ayat suci Al-Quran setiap harinya :')
*kok jadi ngomongin rumah? --"

Yasudah lah, intinya, inilah me time ku hari ini. My real me time. Ada juga sih me time-me time ku yang lain seperti jalan-jalan di supermarket, toko kain *entah itu mau belanja beneran atau cuma windows shopping :p*, atau mungkin jahit-jahit sesuka hati *walaupun hasilnya amatiran dan nggak jelas hehehe --"*, nge browsing entah itu sesuatu yang bermanfaat ataupun tidak *don't try this at home --"*. Intinyaa, jangan takut lah pergi sendiri. Ke tempat yang aman, tentunya ya (apalagi kalo kamu perempuan)! Nikmatilah kesendirianmu. Karena setelah kamu menikah atau berkeluarga nanti, mungkin feelnya sudah beda sebab akan ada kebahagiaan lain yang mungkin berbeda dari yang bisa kamu rasakan saat masih sendiri. Bukankah setiap orang tetap membutuhkan me time nya masing-masing? :D Dan dari yang aku rasakan pagi ini, ternyata bersepeda (meskipun) sendirian di pagi hari itu menyenangkan dan merefreshkan. Apalagi untuk tipe-tipe orang seperti aku yang biasanya suka ngebut kalau lagi motoran, dan baru tadi aku paham letak BULOG Jember *yang selama ini aku pertanyakan* itu dimana -_- Juga letak Dinas Peternakan dan Perikanan dan Telkomsel *yang jelas-jelas operatorku tapiaku baru tau pabriknya. Selama ini cuma tau Graparinya*, padahal sudah sering aku melewati jalanan itu. Walaupun lah, harus ekstra hati-hati dan lumayan bikin aus sepatu gara-gara rem sepeda yang nge blong wkwk. Dan kali ini, tinggal merasakan njarem-njaremnya di kaki serta aaa gara-gara duduk di kursi sepeda yang atos, gluteusku, koksigeusku... oh noo haahahaa --" Sudahlah, yang jelas hari ini Alhamdulillah sekali :D Benar kata Sherina dalam lagunya:

Mengapa bintang bersinar
Mengapa air mengalir
Mengapa dunia berputar
Lihat segalanya, lebih dekat
Dan kau akan mengerti


Rabu, 26 November 2014

Tak Bisa Ditutupi

Luluh, lantak, semuanya di hadapan Engkau, ya Rabb..

Pertahanan yang sudah hamba bangun di depan mereka, seketika ambruk dan terobohkan.

Mungkin hamba bisa menjadi periang dan seakan tak peduli di hadapan mereka. 

Di hadapan umik terutama, sebagai pihak kedua yang mengetahui semuanya setelah Engkau.

Tapi ternyata itu tidak berlaku di hadapan Engkau.

Tak ada tabir yang mampu menutupi apa yang ada di dalam hati ini.

Seketika semua pertahanan dan ketegaran itu menghilang tak ada arti.

Allahughafur, mohon ampun atas setiap dosa yang tak terhitung saking banyaknya..

Allahurabb, mohon tamengi diri dari setiap kesemuan yang dunia ini tawarkan.

Ingatkan bahwa kefanaan ini tak akan aku bawa mati.

Kuatkan hati, untuk mempertahankan apa yang harus dipertahankan.

Mampukan diri, untuk bisa menjadi yang lebih baik lagi setiap hari.

Ikhlaskan hati untuk merelakan apa yang memang seharusnya dilepaskan.

Sebab sejatinya Engkau tidak pernah mengambil sesuatu tanpa menggantinya dengan yang lebih baik lagi..


Ampuni hamba, ya Rabb.. Mungkin kali ini hamba belum mampu menjadi sekokoh itu..

Senin, 17 November 2014

Krisis Kepercayaan terhadap Laki-Laki



Siang ini seusai shalat dzuhur di musholah kampus, aku sedang duduk-duduk santai dengan seorang akhwat yang dekat denganku. Sambil cerita ngalor ngidul, eh nggak ngalor ngidul juga siih. Tapi  bisa dikatakan diskusi agama sambil bercerita gitu deh. Dan pada suatu detik ketika dia buka fb lewat hp dan menemukan ini, aku pun ikut membacanya..................





Paham tidak, itu gambar apa? Aku mendapatkan artikel itu dari fan page fb milik DPU Daarut Tauhid disini. Intinya, foto itu diambil dengan kamera pendeteksi panas tubuh. Dan dua orang yang ada di sana adalah pasangan yang entah pacaran atau sedang tunangan, yang jelas intinya, ceritanya dua orang itu bukan mahram. Daaan, lihatlah apa yang terjadi, ketika mereka pegangan tangan, saling memandang......... 

"Kajian menunjukkan bagian berwarna merah adalah peningkatan suhu yang tinggi di kawasan tersebut. Jadi berpegangan tangan, jantung seorang perempuan akan berdegup kencang karena cinta dan kasih sayang. Sedangkan lelaki berdegup di otak dan kemaluan kerana nafsu semata-mata"


Maka inilah satu dari sekian banyak alasan Islam melarang untuk tidak bersentuhan dengan yang bukan mahram, berpandang-pandangan, apalagi yang lebih dari itu. Sekalipun statusnya tunangan, toh juga masih belum halalan thoyyiban kan?? Tolong ya, akad aja belum. Jadi perempuan juga plis jangan mau digrepe-grepe! Laki-laki (yang notabene MASIH berstatus) tunanganmu itu saja belum melafalkan perjanjian yang agung dengan Allah dalam akad itu, yang dinamakan MITSAQAN GHALIDZA. Yaitu perjanjian yang agung, peralihan untuk menanggung jawabi kamu dari orang tuamu kepada dirinya.
Dan mengutip apa kata ust. Salim A. Fillah dalam bedah buku 'Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan', bahwa beliau tidak ingin menunda terlalu lama waktu antara pengkhitbahan dan pernikahan itu sendiri. Karena beliau takut tergoda oleh dua macam godaan dari arah kanan dan kiri.
Kanan: Takut menemukan atau 'melihat' sosok lain yang 'dirasa' lebih baik dari perempuan yang telah dikhitbahnya, atau dari laki-laki yang telah mengkhitbahnya
Kiri: Takut tergoda untuk melakukan maksiyat dengan yang dikhitbah / yang mengkhitbah, padahal jelas-jelas status masih BELUM HALAL!

Ah, aku jadi emosi sendiri seusai melihat gambar dan membaca artikel itu. Sungguh, seketika muncullah sebuah pertanyaan yang teramat, terlampau, dan terlalu besar dalam benakku: "Sebegitu rendah dan pemuas nafsunya kah perempuan di mata laki-laki?"
Sungguh tidak adil rasanya jika ia memberikan  rasa kasih dan sayangnya, yang benar-benar tulus datang dari hati tapi hanya dibalas dengan nafsu belaka dari para laki-laki yang ah entahlah. Mendadak aku jadi krisis kepercayaan terhadap para lelaki, kecuali Rasul dan abiku tentunya. Hahahah -_-

Nah kalau menikah? Niat menikahnya diniatkan sebagai apa dong? Jangan-jangan hanya sebagai pemuas nafsu belaka yang akan dibuang ketika sudah mendapatkan apa yang diinginkannya??? Lalu kapankah waktu yang BENAR untuk kita sebagai perempuan, BISA percaya terhadap laki-laki? Hahahah bukankah laki-laki itu yang dipegang adalah omongannya? Perkataannya? Janji-janjinya? 
Hahaha mungkin akunya yang terlalu berfikir negatif dan terlampau jauh? Tapi benar-benar ini menjadi pertanyaan besar untukku. Benarkah apa kata pepatah yang mengatakan bahwa semua laki-laki itu sama? Sama apanya? Sama..... ah entahlah. Aku bukan laki-laki.

Sabtu, 15 November 2014

(SEMACAM) CATATAN HATI SEORANG SUAMI by Fahd Pahdepie



Saya sering mengatakan bahwa kecantikan perempuan meningkat saat mereka sedang hamil. Jika saya harus bicara angka, mungkin sekitar 27.3%. Tetapi, jika mereka tersenyum, saya tak bisa menghitung apa-apa lagi: Senyum seorang perempuan yang sedang mengandung adalah senyum seorang ibu. Dan karena seorang ibu adalah malaikat yang terlihat, sulit mendeskripsikan betapa agung kecantikan dan kemuliaannya.

Ini tentang Rizqa, istri saya, ketika dia sedang mengandung.

Sejak pertama kali bertemu dengannya, saya selalu mengagumi kecantikan Rizqa. Tetapi, sejak saat itu, selalu saja ada hal yang bisa saya kritisi dari penampilannya. Ini contohnya: Saya tak begitu suka pipinya yang terlalu tirus. Dan meskipun banyak teman-temannya yang iri pada tubuh Rizqa yang selalu ramping, saya tak benar-benar menyukainya. Bagi saya, Rizqa selalu terlalu kurus untuk perempuan ‘cantik’ tipe saya. Sejak menikah dengannya di tahun 2009, saya selalu memintanya menaikkan berat badan. Saya menggodanya untuk makan banyak. Dia mengikuti nasihat saya. Lalu kami menjelajahi banyak tempat makan enak. Sialnya, Rizqa tetap saja kurus sementara laju berat badan saya tak terbendung!

Semua itu membuat saya mulai memakai satuan kilogram sebagai penanda waktu: Sejak pertama kali menikahi Rizqa 25 kg yang lalu, saya tak pernah berhasil memahami bagaimana metabolisme tubuhnya bekerja. Dia bisa makan enak sebanyak yang dia mau, tapi tak pernah mendapatkan masalah kelebihan berat badan. Suatu pagi, dia menjerit girang dari kamar mandi, berat badannya naik! Buat saya, itu bukan berita baru yang menggembirakan, berat badannya tak pernah beranjak dari kisaran 41 atau 42 kg… Seperti pagi itu, 43 adalah berat badan terbaiknya. 

Maka saat Rizqa hamil, dia segera menjelma menjadi perempuan cantik tipe saya yang sesungguhnya. Pipinya lebih berisi, membuat wajahnya lebih cerah, senyumnya lebih indah. Dari semua alasan mengapa saya percaya bahwa kehamilan meningkatkan kecantikan seorang perempuan, persepsi subjektif saya tentang Rizqa mengalahkan semuanya. Melihat Rizqa bangun pagi dengan berat badan 46 atau 48 atau 50 kg, dengan cahaya pagi menyinari sebagian wajah dan rambutnya, saya melihat seorang istri yang mengagumkan. Saya melihat seorang ibu bagi benih cinta kami berdua. Maka bagi saya, angka 27.3% menjadi tak penting lagi, seperti tak pernah penting dari mana angka itu berasal. 

Sebagai seorang suami, saya selalu menikmati hari-hari yang pendek ketika istri saya sedang mengandung. Sembilan bulan selalu sangat singkat. Ketika pagi hari mendengar kabar bahwa istri saya hamil, saya berjanji akan jadi suami siaga. Tetapi sore harinya, saya lupa mencuci piring... Dan Rizqa juga yang harus melakukannya. Malam harinya saya minta maaf, seraya berjanji besok pagi akan lebih giat lagi mengerjakan tugas-tugas domestik.

Apa yang terjadi keesokan harinya? Ah, kelemahan seorang lelaki romantis adalah sifatnya yang pelupa, bukan? Maka Rizqa tetap menjadi seorang istri yang mengerjakan hampir semua pekerjaan rumah dengan baik. Meski sedang mengandung, dia tetap yang mengurusi semuanya, dari menyiapkan sarapan buat saya hingga melipatkan baju tidur saya. Dari mencuci baju hingga merapikan tempat sepatu. Di rumah, tugas saya selalu sederhana saja, seperti di film-film: Membelikan bunga atau cokelat, menulis puisi, atau mengajaknya menari di dapur sambil bernyanyi dengan cara pengambilan nada awal yang melulu terlalu tinggi satu ketukan. Saya selalu suka ketika Rizqa menertawakan saya bernyanyi. Saya selalu suka caranya tertawa.

Dan sembilan bulan pun berlalu begitu cepat…

Kali ini Rizqa sedang mengandung anak kedua kami. Tak terasa usia kandungannya sudah 38 minggu. Sesuai perhitungan dokter, kami tinggal menunggu hari saja, atau mungkin jam, sampai Rizqa diserang rasa mulas hebat bertubi-tubi yang membuatnya harus terbaring di ranjang persalinan. Saya ingat empat tahun lalu, hari di saat Rizqa akan melahirkan anak pertama kami, Kalky…

Kapan seorang perempuan tampak sangat buruk rupa? Mungkin saat mereka sedang melahirkan seorang bayi dari rahimnya. Wajahnya yang kusut dan rambutnya yang lengket dengan keringat. Teriakan-teriakannya. Gerak-gerik dan gesturnya yang tak enak dipandang mata. Semua kerut di wajahnya. Semua hal buruk dari penampilannya. Sebagai seorang suami yang pernah menemani istrinya melahirkan, saya bisa mengatakan bahwa: Ketika seorang perempuan tengah berjuang di ranjang persalinan, kecantikannya menurun sekitar 61.3% dari penampilannya di hari-hari biasa. Karena satu dan lain alasan, angka itu bisa saja makin besar.

Tetapi, jika Anda pernah mengalami perasaan seperti saya mengalaminya, justru di saat-saat seperti itulah kita begitu mencintai dan mengagumi seorang istri. Di saat-saat seperti itu, kita tak lagi mempedulikan paras, penampilan, bau badan, atau apapun yang fana dan kasat mata. Cinta ternyata bukan tentang apa yang kita lihat dengan mata atau apa yang kita dengar dengan telinga. Cinta adalah apa yang kita rasakan… jauh… jauh hingga lubuk hati yang terdalam. Di mana kita menyayangi seseorang bukan karena penampilan fisik atau bentuk tubuh, tetapi sesuatu yang melampaui semua itu.

Saya selalu ingat ketika melihat istri saya sedang melahirkan, saat semua ego saya sebagai seorang laki-laki tiba-tiba runtuh. Di sana saya baru menyadari bahwa sepanjang sejarah ternyata laki-laki tak pernah lebih kuat dari seorang perempuan. Mungkinkah ada peradaban manusia tanpa kehadiran seorang ibu? Tak! Apa yang kita puja-puji dari penampilan seorang perempuan, tak berarti apa-apa dibanding keagungan, keberanian dan pengorbanannya untuk menjaga rasa cinta dan kasih sayang yang dititipkan Tuhan pada manusia. Perempuan adalah ibu, yang melahirkan, melindungi, merawat, dan membesarkan peradaban.

Hari-hari ini, jam-jam ini, Rizqa mulai mengeluhkan rasa sakit dan mulas menjelang persalinannya. Beberapa kali dia meminta saya memijat punggungnya atau sekadar mengusap-usap bagian belakang perutnya. Tiba-tiba saya dijerang ketakutan yang luar biasa. Tiba-tiba kekhawatiran menguasai sebagian besar wilayah perasaan saya. Maka di antara semua pikiran buruk, saya selalu berusaha menyelipkan doa: Semoga dia baik-baik saja dan Tuhan memberikan kekuatan yang jauh lebih besar dari mahasakit yang akan dihadapinya.

Ternyata, saya mencintai istri saya. Sangat mencintainya. Ternyata, saya sangat menyayangi Rizqa. Jauh melebihi alasan apapun tentang bahwa dia cantik atau tidak, tentang ukuran-ukuran berat badannya, tentang apa saja. Saya selalu bilang pada Rizqa bahwa mungkin saya lebih mencintai dan menyayangi Kalky daripada mencintai dan menyayanginya. “Tidak apa-apa,” katanya, sambil tersenyum. Senyum terbaik di dunia. Tetapi perlahan ada perasaan asing yang muncul dari dalam hati saya, semacam pertanyaan: Mungkinkah akan ada Kalky jika saya tak menikahi Rizqa? Mungkinkah ada anak yang sangat saya sayangi tanpa Rizqa yang mengandung dan melahirkannya?

Suatu hari Rizqa pernah memberi saya teka-teki yang sulit: Jika saya harus memilih kehilangan Kalky atau kehilangan Rizqa, mana yang akan saya pilih? Saya pernah menjawab pertanyaan itu dengan dua ‘kemungkinan’ jawaban yang tersedia. Tetapi rasa takut dan khawatir salalu menjadi awan gelap dalam pikiran saya.

Tinggal beberapa hari lagi, atau beberapa jam lagi, Rizqa akan melahirkan. Saya ingat semua janji saya tentang ingin menjadi tua bersamanya. Tentang ingin selalu membuatnya tersenyum. Tentang mengobati semua rasa sakitnya. Tentang membahagiakannya. Tentang mengajaknya naik haji bersama. Tentang mencuci piring dan membagi pekerjaan rumah berdua. Tentang membangun halaman belakang impiannya. Tentang tidak tidur terlalu malam. Tentang apa saja. 

Ah, adakah yang lebih menenangkan daripada doa-doa?

Melbourne, 13 November 2014

Fahd Pahdepie

Menjaga Itu, Sesuatu

Wuwuwuwuu sepanjang mata memandang, kok isinya sarang laba-laba semua yah? Wkwkwkwk ternyata sudah terlalu lama ditinggalkan ya blog ini hehehee hampir setengah tahun nggak nulis ternyata :') . Okee kali ini mau bersih2 dulu deh sambil cari inspirasi *ambil sapu dan pel-pelan


*Tarik nafas dalam-dalam. Yak! Entah kenapa kali ini ingin membicarakan sebuah kata yang dinamakan 'menjaga'. Menjaga apa nih? Menjaga diri, jaga hati, dan jaga iman. Sesuatu yang mudah diucapkan tapi sungguh sulit untuk dilaksanakan. Sebab segala macam jenis godaan datang silih berganti hanya untuk satu tujuan yang sama: MENGGOYAHKAN. Ah, memang kadar keimanan seseorang itu naik turun adanya. Dan setiap orang akan memiliki persoalan dengan keimanannya masing-masing. Apalagi ketika merasa sedang jauh (dan biasanya, kalo dikasih musibah baru deh mendekat lagi. Sedang kalo udah dikasih nikmat jadi lupa lagi deh. Ah!). Entahlah, tapi buat aku pribadi, aku merasa masih saja sering luput dalam menjaga yang tiga itu. Apalagi, niat menjaganya karena apa. Karena siapa. Sering aku salah menempatkan niatku yang masih berorientasi kepada manusia. Padahal sudah tau sendiri, kalo siapapun itu, manusia yang bahkan paling dekat sekalipun dengan kita pasti punya potensi besar untuk menyakiti, membuat kecewa, dan segalanya yang sedih-sedih. Dan seharusnya niat dalam menjaga itu bukan demi manusia, melainkan hanya demi Allah semata. Karena, jangankan mau bikin yang sedih-sedih, Allah aja tidak punya niatan sedikit pun untuk mengecewakan, apalagi mencelakakan hambaNya. Dan bahwa Ia yang Maha Sempurna, makanya Ia tidak akan pernah melakukan sedikitpun kesalahan dalam memperlakukan hambaNya. Maksudku, kalo memang seseorang yang dekat dengan kita itu pernah membuat kecewa padahal dia tidak bermaksud dan berniatan untuk itu, maka akan lain dengan Allah. Karena Beliau itu Maha Sempurna, sesungguhnya Allah lah yang sangat tau dan memahami siapa diri kita sebenarnya, melebihi kita memahami diri kita sendiri, apalagi orang lain yang 'kelihatannya' memahami kita.


Yah, kembali lagi. Kalo memang menjaga itu, niatnya bukan demi manusia tapi hanya demi Allah saja. Kalopun hal ini diterapkan dalam konteks menjaga untuk jodoh di masa datang, maka jagalah diri, hati, dan imanmu demi Allah, untuk jodoh terbaik siapapun kelak yang sudah Allah siapkan untukmu. Karena, kalo kamu disini berusaha memperbaiki diri, insyaAllah jodohmu disana juga demikian. Sebab Allah sudah berjanji bahwa laki-laki yang baik adalah utnuk perempuan yang baik, perempuan yang baik adalah untuk laki-laki yang baik, dan sebaliknya. Maka semoga Allah karuniakan kita kekuatan dan penjagaan dalam keistiqomahan dalam menjaga apa-apa yang seharusnya dijaga, hingga akhir hayat kita nanti, dengan niatan yang memang hanya dipersembahkan untuk Allah semata. Sebab kemampuan manusia hanya sebatas mengikhtiarkan dan memohon semaksimal mungkin, sedang penentuan akhirnya hanyalah hak prerogatif Allah saja.