Setiap orang pasti pernah merasakan posisi menjadi seorang murid. Entah itu ketika masih sekolah, kuliah, atau bahkan dalam kehidupan sehari-hari, kita adalah murid bagi siapa saja yang mendidik dan membimbing kita menuju ke arah yang benar. Namun, sudahkah kita menjadi seorang murid yang baik?
Sore tadi, aku mampir ke tempat makan milik saudaraku yang kupanggil om, tapi sebenarnya beliau saudara jauh. Saat kami asyik bercengkrama, tiba-tiba datang segerombolan pengamen, bener-bener bikin ribut. Padahal sebelumnya juga sudah ada seorang pengamen, solo, yang memang sudah setiap hari mengamen di sana dan sering membantu jika memang diperlukan, kata omku. Dan taukah kalian, salah satu dari segerombolan pengamen yang bikin ribut itu adalah murid umikku. Penampilannya...jangan ditanya. Seperti tidak ada bekas-bekas bahwa dia pernah menjadi satu dari murid SMP Islam swasta tempat umikku mengajar. Telinga bawahnya entah kok bisa berlubang sampe-sampe cukup untuk memasukkan sebatang rokok ke dalamnya (aku tadi lihat sendiri). Tangannya juga bertato dan celananya robek-robek. Dia bertugas mengulurkan gelas aqua tempat uang ngamen, dan saat dia sampai di meja kami, dia bahkan nggak mengenali umikku yang notabene dulu pernah menjadi gurunya.
Sontak saudaraku langsung menghadapi mereka, bilang kalo memang mau ngamen boleh, tapi kalo kondisinya ada dua pengamen dalam satu tempat makan kan nggak enak juga, bikin ribut, bikin berisik, bikin nggak nyaman orang yang lagi makan, apalagi pengamen satunya cuman satu orang yang kalo dibandingin keributan yang ditimbulkan, nggak sebanding sama mereka yang gerombolan dan harusnya ngamen di pasar itu. Tapi mereka malah marah pas diperingatkan, dan pengen ngehajar si pengamen gondrong yang udah tiap hari di sana, padahal jelas-jelas pengamen gerombolan tadi baru pertama kali ngamen di tempat makan itu dan kalian tau, saat itu ternyata kondisi mereka dalam keadaan mabuk! Masalah jadi runyam, mereka tetep ngotot. Untung omku punya pegawai cowok-cowok semua, dan ada bapak-bapak yang ngebantuin belain omku.
Ya, kita emang nggak bisa ngalah kalo ngelawan orang mabok. Bahkan umikku juga bilang, mereka harus dikasih pelajaran biar tuman, biar kapok. Dan dari sini aku dapat pelajaran. Betapa ketika kita sedang berada di posisi sebagai seorang guru, ingin dan sudah memberikan yang terbaik bagi murid-murid. Namun tak selamanya mereka bisa menjadi apa yang baik pula, tak selamanya mereka bisa menjadi apa yang kita inginkan. Mungkin dalam kasus murid umikku tadi, dia terkena pergaulan yang salah, mungkin kondisi ekonomi membuat dia ingin melarikan diri, mungkin dia ingin hidup bebas, tapi kan nggak seharusnya dia lewat jalan seperti itu. Kalo memang dia sudah bisa berpikir dewasa, dia nggak akan ambil jalan itu, yang udah keliatan kalo bakalan bikin dia jauh dari Allah. Akhirnya, kita sendiri yang akan menentukan mau jadi tipe murid yang seperti apa. Naudzubillahimindzalik ya kalau yang kayak begitu. Semoga segera Allah bukakan pintu hatinya agar kembali ke jalan yang benar, dan semoga kita tidak disesatkan dalam jalan orang-orang yang dimurkai. Amiiin ya Rabb...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar