Kita sebagai manusia pasti memiliki keinginan, memiliki tujuan dan goal dalam hidup ini. Kalo kita udah punya tujuan, pasti kita berusaha, berikhtiar demi mencapai tujuan tersebut. Usahaaaa udah habis-habisan. Ikhtiaaaaarrr udah oke banget. Berdoaaaaa pun udah nggak henti-hentinya. Bukan cuman mengandalkan doa dari diri sendiri tapi juga doa dari orang tua, saudara, semuanya deh. Kalo orang tua udah mendoakan kita, itu artinya mereka ridho sama kita. Dan Allah udah pernah bilang, ridho Allah tergantung pada ridho orang tua. Kalo orang tua ridho, InsyaAllah Allah pun ridho, begitu pun sebaliknya.
Nah, lalu ketika semua usaha rasanya sudah kita lakukan dengan amat sangat maksimal, kita tinggal bertawakkal kepadaNya. Nggak pernah kita putus dalam berdoa. Apa yang kita mohonkan? Tentunya kita mohon hasil yang baik, hasil yang terbaik, dan yang berkah. Betapa hati senang dan penuh syukur (semoga kita nggak lupa untuk selalu bersyukur, ya) ketika ternyata hasil yang muncul itu sesuai dengan apa yang kita harapkan. Namun beda ceritanya kalo ternyata takdir kali ini yang sedang Allah berikan kepada kita adalah sesuatu yang bertolak belakang dengan keinginan dan harapan kita. Kecewa? Wow sudah pasti, tidak usah ditanyakan lagi. Kecewanya sama siapa dulu, tapi? Sama diri sendiri? Iya banget. Sama orang tua, saudara, yang kita mintain doa? Mungkin ada sedikit. Dan bisa jadi karena rasa kecewa itu, kita jadi bersuuzon sama mereka. "Jangan-jangan mereka nggak doain kita? Jangan-jangan mereka doanya nggak ikhlas buat kita?". Ah pokoknya yang jelek-jelek deh jadi memenuhi akal pikiran kita yang pada awalnya sehat walafiat itu. Lalu setelah kecewa sama orang lain, kecewa sama siapa lagi? Kecewa sama Allah?? Astaghfirullah.. Astaghfirullahal adziim.. Ampuni kami Allahu Ghoffur..
Tadi, kebetulan nonton ceramahnya Almarhum Ust. Jeffry Al Buchory di TV. Beliau berpesan sama kita kurang lebih seperti ini,
"Hidup itu jangan mudah kecewa. Sama diri sendiri, kecewa. Sama suami, kecewa. Sama istri, dikit-dikit kecewa. Sama orang tua, kecewa. Sama tetangga pun kecewa. Lalu mau kecewa sama siapa lagi? Mau kecewa sama takdir yang ditetapkan Allah? Astagfirullahal adzim.. Awalnya kita kecewa lama-lama kita murka sama takdir Allah. Naudzubillahimin dzaliik.."
Nah begitu kata Uje. Jadi, berusahalah berlapang dada dan mohon keluasan serta kelapangan hati kepada Allah ketika ternyata kenyataan pahitlah yang kita terima. Jangan lupa juga tetap bersyukur apapun itu takdir yang ALlah kasih ke kita. Umik pernah berpesan kepadaku waktu aku nangis dan mengadu ke umik, udah beberapa kali ujian blok dan hasilnya aku selalu remidi. Kata Umik,
"Namanya hidup, terkadang kita di atas, terkadang kita di bawah. Seperti roda kehidupan itu loh. Dan layaknya seorang petani yang menanam tanaman. Kadang hasil panennya baik, kadang buruk, kadang malah nggak bisa dipanen saking jeleknya. Layaknya pedagang yang terkadang untung, terkadang rugi dalam menjualkan dagangannya tapikan nggak selamanya mereka akan selalu rugi to? Dalam hidup ini, kita harus menyiapkan mental kita. Bukan hanya menyiapkan mental untuk menyambut hasil baik, tapi juga kemungkinan hasil yang 'belum baik' dan 'belum sesuai' dengan apa yang kita inginkan. Seperti seorang anak yang sedang belajar berjalan. Dia nggak akan langsung bisa jalan tapi harus tertatih dulu. Lalu jatuh. Dan bangun lagi. Belajar berjalan lagi. Lalu jatuh lagi hingga akhirnya sampailah ia pada kemampuan berjalan dan nggak hanya itu, bahkan dia bisa berlari. Toh walaupun dia sering jatuh, masih begitu besar kan keinginannya untuk bangun dan mencoba berjalan lagi? Makin sering kita jatuh, makin kita tau bagaimana caranya untuk bangun. Allah ingin menguji kita, pengen tau apa kita tetep kembali kepadaNya atau enggak, ingin menempa kita biar bisa lebih kuat menghadapi hidup di masa depan. Ini masih langkah kecilmu apabila dibandingkan sama masa-masa yang akan datang. Tetaplah semangat, yakinlah dalam setiap ketetapan Allah pastilah ada hikmahnya.."
Tetep semangat berjuang di jalan Allah. Jangan, jangan mandek dulu. Jangan putus asa dulu. Ingatlah perjuangan yang dilakukan oleh Rasulullah sehingga bisa membawa kita dari zaman jahiliyah ke zaman yang penuh dengan ilmu pengetahuan seperti ini. Semoga Allah selalu melindungi kita, membimbing kita, dan memberikan berkahnya untuk kita dan orang tua kita yang sedang menunggu hasil panenannya yaitu kita.. Amin amiin ya robbal alamiin..
Semangat berjuang, kita nggak tau kapan jatah umur kita habis. Jangan bosen berbuat baik. Semoga kelak Allah menyambut kita semua di pintu surgaNya amiiiinnn Allahumma amiiin..
"Sudah berapa orang yang kamu bahagiakan hari ini?"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar