Wuedeeww judulnya sok banget gitu rasanya, padahal nggak segitunya juga isinya hehee..
Hmmm teman-teman sekalian, pernah tidak kamu mengalami suatu
keadaan seperti ini:
Suatu ketika kamu dipanggil oleh
ayahmu. Niatnya baik, kamu disuruh makan malam. Tapi sayangnya kamu yang sedang
menonton tv nggak kedengeran kalo kamu lagi dipanggil *walaupun manggilnya
memang baru satu kali sebenernya* akhirnya ibumu ikut memanggilmu tapi sudah
dalam keadaan emosi karena kamu nggak datang-datang waktu dipanggil. Karena
ibumu sudah emosi, ayahmu yang pada saat itu (sebenarnya) nggak dalam keadaan
emosi, malah ikut kepancing emosinya. Akhirnya nada mereka semakin meninggi dan
keluarlah perintah buat mematikan televisimu. Padahal nih ya, sebenernya
sebelum kamu nonton tv kamu udah bilang kalo kamu masih kenyang. Maka dari itu
kamu nggak ikut makan pada saat itu. Dan pada saat seperti ini, orang tua
langsung ngomel “Sekarang kalo dipanggil sering nggak nggathekno
(memperhatikan).” Padahal lho kamu memang nggak denger dan manggil pun juga
baru sekali. Padahal juga, sebelum itu kamu udah disuruh-suruh buat pergi ke
warung beli bahan masakan dan setelah kamu kembali, eh ternyata ada yang
kelupaan sampe kamu harus bolak-balik warung dua kali. Hmm tapi kalo keadaan
sudah kayak gini? Apa boleh buat. Rasanya benar-benar karena nila setitik,
rusaklah susu sebelanga.
Ya, tepat sekali. Aku baru saja
mengalami hal itu. Lebih tepatnya, posisiku sedang berada bersama orang tuaku
saat itu, makanya aku bisa cerita sedetail ini dan yang dipanggil untuk makan
itu adalah adekku. Aku bisa bayangin banget gimana perasaan adekku. Entahlah
mungkin aku salah, tapi kalo aku disuruh memilih, aku akan pilih ada di pihak
adekku. Aku aja yang cuma ‘jadi penonton’, ikut sebel juga rasanya. Kenapa harus
pake emosi segala. Yah.. Mungkin keadaan orang tuaku juga lagi capek. Mungkin
juga volume tvnya terlalu besar sampe nggak denger kalo lagi dipanggil,
mungkin… Yah mungkin ini mungkin itu mungkin juga masih banyak lagi
kemungkinan-kemungkinan yang lainnya.
Mendadak aku ingat, dulu abiku
pernah bilang kayak gini, “Dalam hubungan suami istri ya Nduk, ketika seorang
suami bersalah, bagaimanapun dia tetep pengen dihormati sama istrinya. Dan kalau dalam hubungan antara
orang tua dan anak, walaupun orang tua sedang dalam posisi yang salah, tapi ya
tetap mereka maunya dihormati sama anak. Memang mungkin kesannya seperti karepe
dhewe (semaunya sendiri). Tapi ya itu kodrat”. Ketika aku mendengar statement
beliau, yaaa yang terpikir di benakku ya memang kok ya semaunya sendiri. Tapi
kembali lagi, itulah kodrat. Ya walaupun mungkin nggak semuanya juga seperti
itu. Tapi walau bagaimanapun, semuanya harus sama-sama introspeksi diri. Bukan
malah menjudge diri sendiri yang paling benar dan menutup mata dan telinga
untuk melihat dan mendengarkan orang lain. Padahal bisa jadi malah orang lain
yang lebih benar daripada kita.
#latepost, harusnya dua malam yang lalu :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar