Anak itu lahir ibarat sebuah kertas kosong. Masih bersih,
tanpa warna. Maka akan dijadikannya hijau ataukah merah, itu bergantung kepada
masing-masing orang tua mereka. Oh mungkin lebih tepatnya, siapa pengasuh
mereka, yang selalu ada di dekat mereka. Karena tidak setiap anak mampu
menikmati masa-masa bermain bersama orang tuanya. Maksudku disini, dalam
konteks jika orang tuanya itu meninggal dunia ketika ia masih kecil.
Anak itu, seorang peniru ulung, peniru terhebat yang pernah
ada. Maka jangan salahkan jika engkau menemuinya senang berkata kasar ataukah
memukul temannya, bolehlah ditengok kehidupan sehari-harinya bersama orang
tuanya. Karena mereka meniru tidak pernah jauh-jauh dari situ. Pun sebaliknya,
jangan terheran-heran jika sejak kecil ibadahnya sudah baik, bacaan Qurannya
sudah benar, tingkah lakunya santun. Sebab itu tidak lain dan tidak bukan
berkat didikan kebiasaan orang tuanya. Ya, sekali lagi peran orang tua. Ibaratnya itu, "Garbage in, garbage out". Kalo orang tuanya memasukkan 'sampah', maka yang keluar dari anak itu pasti juga sampah.
Betapa seorang anak membutuhkan kasih sayang orang tua dalam
pertumbuhan dan perkembangannya. Ah tapi
tak cukup hanya dengan itu. Mereka harus dibimbing, diarahkan dengan baik, dikenalkan
dengan ilmu agama semenjak dini. Bahkan sudah banyak orang-orang hebat yang
berkata bahwa seorang anak harus dikenalkan dengan Rasulnya semenjak ia masih
kecil. Ajak mereka bicara tentang bagaimana sosok Rasulnya yang penyayang itu,
gagah dan perkasa, serta baik akhlaqnya dan santun berbicaranya. Hingga
membawanya menjadi penutup nabi serta kekasih Allah yang amat dicintaiNya.
Pernah pula aku mendengarkan tausiyah dari ustad Widodo
Saputro, seorang pakar parenting dari Jakarta yang menyebutkan bahwa ketika
kita memiliki anak yang sedang menapaki usia emas (saat itu beliau menyebutnya
antara usia 0-10 tahun karena beliau mengacu pada ayat Al-Quran, afwan saya
lupa ayatnya yang mana), saat kita marah sekali saja kepada mereka maka sambungan
saraf kecerdasannya akan hangus sebanyak 500ribu. Belum lagi jika kita sebagai
orang tua melakukan tindakan yang lebih seperti menyubit, memukul, dan
sebagainya. That’s why, pada generasi Islam saat ini, fisiknya ada tetapi
otaknya tak ada. Hanya karena niat yang baik tapi melalui cara yang salah. Iya,
kita menginginkan mereka menjadi orang yang benar, tapi kita seakan
menjatuhkannya ke jurang terlebih dulu baru menunjukkan bahwa ada jembatan yang
dapat dilalui. Bukankah dengan cara yang baik (sudah) akan dapat menghasilkan
mereka-mereka yang bersifat mulia? Pasti. Dan itu dihasilkan tanpa perlu kita
capek-capek memarahi atau memukulinya, kan. Menurut beliau juga, setiap
keluarga Muslim saat ini tidak pernah mempersiapkan anaknya sebagai seorang pemimpin.
Maka dari itulah Negara Indonesia ini kebingungan dalam mencari pemimpin.
See? Betapa kebiasaan dan didikan orang tua amat berpengaruh
terhadap karakter anak. Terlebih sifatnya dan bagaimana dia mengarungi
kehidupannya di masa mendatang. Anak yang tahan banting dan berperilaku positif
biasanya memiliki orang tua yang harmonis. Bagaimanakah orang tua yang harmonis
itu? Ialah orang tua yang memiliki visi dan misi yang sama sehingga dalam
menjalankan roda pernikahan tidak diwarnai dengan banyaknya pertikaian. Dan
salah satu visi misinya yang harus diletakkan di posisi paling atas adalah:
Asyhadualla ilaaha illallaah…
Maka akhirnya tibalah pada satu nasihat yang
(kalau tidak salah) datang dari sahabat Rasulullah, yaitu: Khawatirlah jika
meninggalkan generasi yang lemah di belakang kalian. Didiklah anakmu, sebab ia
akan hidup di zaman yang berbeda denganmu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar