Selamat Datang

Monggoo dipun aturiiii :))

Sabtu, 07 Februari 2015

Orang Tua, Role Model Anak Sepanjang Masa

Anak itu lahir ibarat sebuah kertas kosong. Masih bersih, tanpa warna. Maka akan dijadikannya hijau ataukah merah, itu bergantung kepada masing-masing orang tua mereka. Oh mungkin lebih tepatnya, siapa pengasuh mereka, yang selalu ada di dekat mereka. Karena tidak setiap anak mampu menikmati masa-masa bermain bersama orang tuanya. Maksudku disini, dalam konteks jika orang tuanya itu meninggal dunia ketika ia masih kecil.

Anak itu, seorang peniru ulung, peniru terhebat yang pernah ada. Maka jangan salahkan jika engkau menemuinya senang berkata kasar ataukah memukul temannya, bolehlah ditengok kehidupan sehari-harinya bersama orang tuanya. Karena mereka meniru tidak pernah jauh-jauh dari situ. Pun sebaliknya, jangan terheran-heran jika sejak kecil ibadahnya sudah baik, bacaan Qurannya sudah benar, tingkah lakunya santun. Sebab itu tidak lain dan tidak bukan berkat didikan kebiasaan orang tuanya. Ya, sekali lagi peran orang tua. Ibaratnya itu, "Garbage in, garbage out". Kalo orang tuanya memasukkan 'sampah', maka yang keluar dari anak itu pasti juga sampah.

Betapa seorang anak membutuhkan kasih sayang orang tua dalam pertumbuhan dan perkembangannya.  Ah tapi tak cukup hanya dengan itu. Mereka harus dibimbing, diarahkan dengan baik, dikenalkan dengan ilmu agama semenjak dini. Bahkan sudah banyak orang-orang hebat yang berkata bahwa seorang anak harus dikenalkan dengan Rasulnya semenjak ia masih kecil. Ajak mereka bicara tentang bagaimana sosok Rasulnya yang penyayang itu, gagah dan perkasa, serta baik akhlaqnya dan santun berbicaranya. Hingga membawanya menjadi penutup nabi serta kekasih Allah yang amat dicintaiNya.

Pernah pula aku mendengarkan tausiyah dari ustad Widodo Saputro, seorang pakar parenting dari Jakarta yang menyebutkan bahwa ketika kita memiliki anak yang sedang menapaki usia emas (saat itu beliau menyebutnya antara usia 0-10 tahun karena beliau mengacu pada ayat Al-Quran, afwan saya lupa ayatnya yang mana), saat kita marah sekali saja kepada mereka maka sambungan saraf kecerdasannya akan hangus sebanyak 500ribu. Belum lagi jika kita sebagai orang tua melakukan tindakan yang lebih seperti menyubit, memukul, dan sebagainya. That’s why, pada generasi Islam saat ini, fisiknya ada tetapi otaknya tak ada. Hanya karena niat yang baik tapi melalui cara yang salah. Iya, kita menginginkan mereka menjadi orang yang benar, tapi kita seakan menjatuhkannya ke jurang terlebih dulu baru menunjukkan bahwa ada jembatan yang dapat dilalui. Bukankah dengan cara yang baik (sudah) akan dapat menghasilkan mereka-mereka yang bersifat mulia? Pasti. Dan itu dihasilkan tanpa perlu kita capek-capek memarahi atau memukulinya, kan. Menurut beliau juga, setiap keluarga Muslim saat ini tidak pernah mempersiapkan anaknya sebagai seorang pemimpin. Maka dari itulah Negara Indonesia ini kebingungan dalam mencari pemimpin.

See? Betapa kebiasaan dan didikan orang tua amat berpengaruh terhadap karakter anak. Terlebih sifatnya dan bagaimana dia mengarungi kehidupannya di masa mendatang. Anak yang tahan banting dan berperilaku positif biasanya memiliki orang tua yang harmonis. Bagaimanakah orang tua yang harmonis itu? Ialah orang tua yang memiliki visi dan misi yang sama sehingga dalam menjalankan roda pernikahan tidak diwarnai dengan banyaknya pertikaian. Dan salah satu visi misinya yang harus diletakkan di posisi paling atas adalah: Asyhadualla ilaaha illallaah…

Maka akhirnya tibalah pada satu nasihat yang (kalau tidak salah) datang dari sahabat Rasulullah, yaitu: Khawatirlah jika meninggalkan generasi yang lemah di belakang kalian. Didiklah anakmu, sebab ia akan hidup di zaman yang berbeda denganmu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar