Selamat Datang

Monggoo dipun aturiiii :))

Rabu, 22 Januari 2014

Mik, I'm Your Little Daughter. Still and Will Always be...


Taraaa... Aku baru datang dari Surabaya nih, Teman-temaann :D Hihii woro-woro nggak penting, eh tapi penting juga sih, karena dialah pembuka alias opening dari kisahku kali ini. Jadi ceritanya, kemarin malam aku berangkat berdua sama umik naik bus satu rombongan dengan temen-temen seprofesi umik (sama-sama guru juga). Sebetulnya bukan acara apa-apa, sebetulnya juga, umik kesana cuma untuk menandatangani sesuatu yang memang bener-bener ndak bisa diwakilkan. Setelah tanda tangan yawes cus pulang. Cuman sak dek sak nyet (sebentar banget) istilahe. Dan disini aku cuman nunut (numpang) jalan-jalan aja hahahaa. Bisa dibilang penyusup juga, tapi aku juga nggak gratisan kook, nyusupnya. Tetep dibayarin umik lah naik busnya wkwk :p Banyak yang awalnya nggak paham kalo aku anaknya umik. Banyak yang mengira aku guru baru atau entah yang lainnya..


Ibu x: "Lho njenengan guru anyar ta? Kok kulo ratau ketok." (Lho samean-kamu- guru baru kah? Kok saya ndak pernah keliatan?)
Me: "Sanes, Buu. Kulo namung tumut ibu kulo mriki" (Bukan Bu.. Saya cuman ikut ibu saya disini)

atau

Ibu y: "Ealaah.. niki putrinipun panjenengan to.. Kulo kinten.." (Ealaah ini putri samean to? Saya kira..)
Umik: "Inggih niki putri kulo, Bu. Hehehe" (Iya ini putri saya, Bu)
Ibu y: "Eeee..sudah gadis, nggeh" (Eeee, sudah gadis, yaa.. Cantik lagi. *wahahaa maap yang terakhir bo'ong deng :p*)
Umik: "Hehehee inggih :) "  (hehehe iya..)

Hahahaaa ya begitulah kira-kira. Sebetulnya, alasan aku ikut itu ya karena emang aku pengen jalan-jalan :D Secara kan aku libur satu minggu. Dan suwung (penat?) banget rasanya ndekem (terkurung?) di Jember teruuss. Kalo temen-temen yang dari luar kota kan, pulang ke tanah kelahiran itu sudah menjadi liburan tersendiri yang amat membahagiakan :) Lha kalo aku? Rumah di Jember, kuliah di Jember, tiap hari njujug (pulang) ya ke rumah karena emang ndak nge-kos. Liburan yawes di rumah aja karena saudara-saudaraku juga nggak ada yang tinggal jauh. Selain itu juga, ada kabar burung bahwa seusai acara yang very very singkat itu, rombongan bus mau melanjutkan dengan jalan-jalan menyeberangi Suramadu. Jelas aja makin bikin aku pengen ikut karena memang aku nggak pernah lewatin itu jembatan Suramadu, apalagi ke Pulau Maduranya :') Tapi ternyata nggak jadi, Saudaraa. Malah ujung-ujungnya cuman ke Tanggulangin doang. Yasudahlah mungkin di waktu yang lain aku bisa berjumpa denganmu, wahai Pulau Madura :*

Tapi yang mau aku tekankan disini adalah, lebih ke perjalananku berdua dengan umik. Sebelumnya, aku mau bilang, percaya atau tidak, seseorang yang paling cerewet ketika dia akan ditinggal pergi atau ketika dia akan meninggalkan pergi ya cuma seorang IBU. Beliau cerewet itu bukan untuk beliau sendiri tapi untuk kebaikan mereka yang akan menginggalkannya, atau mereka yang akan ditinggalkannya. Contoh sederhananya saja, ketika aku sudah sebesar ini dan akan pergi ke Surabaya sama temen-temen karena ada keperluan, umik masih saja selalu turut andil dalam menyiapkan barang-barang bawaanku. Semuuaa barang ditanyakan. 'Ini apa sudah dibawa? Itu apa sudah masuk dalam tas' Apalagi, umik yang hafal banget sama sifatku yang bener-bener membawa malapetaka dan sayangnya belum bisa dihilangkan, yaitu T E L E D O R. Dan contoh lainnya lagi, ya waktu kemarin umik akan meninggalkan adek laki-lakiku dan abi berdua di rumah. Nugget umik beli (kebiasaan umik kalo mau ada tugas di luar kota) sebagai persediaan lauk, ini itu semuanya diberi penjelasan dulu ke adek. Diarahkan. Diingatkan. Kayak misalnya, 'nanti ini diginikan ya Le' atau 'kalo besok nutut, yang ini di bla bla bla' atau 'kalo pusing atau gatelnya kumat minum bla bla bla' atau 'kalo butuh ini ada disini' atau sekedar mengingatkan 'besok pulang sekolah jangan lupa bla bla' :"))

Jadi inget tadi waktu tadi ketua rombongan menawarkan kepada orang-orang, mau melanjutkan perjalanan kemana. Mereka saling bersahutan. Ada yang bilang mau ke pasar Turi, mau ke Tanggulangin, mau ke PGS, namun tak ada satupun yang mengusulkan untuk menyeberangi Suramadu. Langsung umik dengan keras mengusulkan. Tapi berhubung nggak ada yang mengamini, akhirnya umik jadi suara minoritas dan saat itu terlihat sekali gurat kekecewaan di wajahnya, karena umik tau aku kepengen banget tau Suramadu, karena umik merasa sudah mengecewakan aku. Ahahaha umik :') it's okay miiikk,, aku pun nggak berharap banyak kok ke Suramadu. Yang aku cari dengan ikut umik itu ya perjalanannya. Aku suka sekali dengan perjalanan. Terutama ke tempat-tempat yang belum pernah aku kunjungi (jadi jangan heran kalo ngeliat aku duduk di pinggir kaca dan nggak rela melepaskan pandanganku dari banyak pepohonan, gunung tinggi menjulang, atau gedung-gedung pencakar langit). Selain itu, perjalanan berdua dengan umik membuat aku mengingat masa-masa kecilku dulu, mik :")

Ah, umik.. Percayalah setua apapun, aku akan tetap menjadi seorang gadis kecil di hadapan umik. Yang selalu rindu dengan semua omelan umik, selalu takjub dengan segala macam bentuk perhatian umik, selalu tersedu dengan setiap pembelaan dari umik dikala umik tahu aku ada di posisi yang benar. Semua omelan itu, diam-diam aku camkan dalam memori agar aku dapat mengingatnya sehingga aku tak mengecewakan umik lagi. Segala macam bentuk kasih sayang itu, setiap cara didikmu itu, terpatri dengan rapi dalam hatiku sebagai bekalku mendidik anak-anakku kelak sebaik umik mengajarkan banyak hal kepadaku. Maafkan aku untuk setiap kata-kata kasar yang terlontar yang jika saja umik tau, sedetik kemudian rasa penyesalan mendalam menyeruak membuat sesak dalam dadaku. Maafkan anakmu yang masih nol ini, masih belum bisa menjadi, memberi yang terbaik untuk umik. Sungguh engkau tak tergantikan, Mik. Tak akan pernah.  Aku sayang UmikPeluk cium buat Umik ({}) :*

I'm your-only-little daughter. Still and will always be..

(On our journey, 21 & 22 Januari 2014 Jember-Surabaya-Jember)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar